Tiga mahasiswa Teknik Elektro Insitut Teknologi Bandung (itb.ac.id)
INDOZONE.ID - Program Studi Teknik Elektro Institut Teknologi Bandung kembali menggelar Electrical Engineering Days. Kegiatan ini bertempat di Aula Timur ITB, Kampus Ganesha.
Berbagi karya mahasiswa dipamerkan tanpa terkecuali. Kegiatan ini juga bertujuan untuk mengupayakan lulusan unggul dan berkompeten, serta mampu bekerja dengan tim dalam dunia kerja asli.
Salah satu karya menjadi sorotan adalah PathoKit, sebuah alat yang digunakan untuk mengukur kandungan bakteri patogen dalam susu. Sehingga, alat ini juga bisa memastikan keamanan susu sebelum dikonsumsi.
Baca juga: Austin Senna Peserta COC Season 2 Raih IPK Melebihi Batas di Columbia University
Alat ini adalah hasil kolaborasi dari Nafa Lutfia Atihrah Chandra, Tjhan Kevin Reagen Sugiarto dan Yohanes Ari Putra Pandapotan. Mereka merupakan mahasiswa Teknik Elektro ITB angkatan 2021.
Cara kerja PathoKid yaitu dengan menedeksi sampel susu yang telah diteteskan pada elektroda. Setelah itu, mengonversi sinyal elektrik hingga akhirnya menjadi nilai konsentrasi bakteri E.Coli dan Salmonella. Keduanya sering menjadi penyebab keracunan pada susu.
Reagen, salah satu anggota tim, mengungkapkan kalau kelebihan dari alat ini lebih murah, dibanding alat lain yang beredar di pasaran.
“Penggunaanya sederhana dan praktis dengan estimasi waktu uji hanya sekitar 3 menit,” imbuhnya.
Reagen juga bilang bahwa alasan dibuat alat ini karena keresahan akibat banyaknya kasus keracunan dari Makan Bergizi Gratis (MBG). Salah satunya disebabkan oleh susu yang sudah terkontaminasi sama bakteri patogen.
Baca juga: ITS Borong 665 Medali, Jadi Kampus Berprestasi Kedua di Tahun 2025
Dengan adanya alat ini, tingkat kelayakan susu pada MBG bisa lebih dulu dipastikan, sebelum dikonsumsi. Ini jadi salah satu cara meminimalisir angka keracunan akibat susu tidak layak.
Selama proses pembuatan PathoKid pastinya ada tantangan, tim sempat kesulitan untuk menggabungkan subsistem-subsistem yang sebelumnya dibuat secara terpisah, menjadi satu bagian utuh.
“Kemampuan kami bekerja dalam tim juga sangat dilatih disini karena harus berhadapan dengan karakter orang yang berbeda-beda dalam satu project,” ujar Reagen.
Terakhir, Reagen juga berhadap kalau inovasi ini bisa diterapkan oleh guru sekolah dasar, serta taman kanak-kanak.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Itb.ac.id