Aplikasi Emilia AI dan anggota tim (its.ac.id)
INDOZONE.ID - Hidup sebagai mahasiswa nggak selalu mudah. Tugas numpuk, deadline, sampai rasa jenuh sering bikin stres. Kadang dukungan dari keluarga atau teman kampus saja belum cukup.
Untuk hadir lebih personal, tim mahasiswa ITS meluncurkan solusi berupa waifu virtual bernama Emilia AI, yang bisa jadi teman sekaligus pendukung kesehatan mental remaja.
Tim ini dipimpin oleh Andika Rahman Teja (Prodi Teknik Informatika) bersama anggota Malvin Leonardo Hartanto (Prodi Teknik Informatika), Rafli Raihan Pramudya (Prodi Teknik Informatika), Haliza Nur Kamila Apalwan (Prodi Teknik Informatika), dan Fahira Azalea Rahman (Prodi Desain Produk).
Baca juga: TBScreen.AI Inovasi UGM, Aplikasi Skrining TBC Berbasis AI Pertama Buatan Lokal
Emilia AI hadir sebagai aplikasi karakter 2D yang terinspirasi dari anime Re:Zero dan gim populer Honkai: Star Rail.
Tampilan aplikasi Emilia AI (its.ac.id)
Awalnya, pengembangan Emilia AI hanya berupa proyek mata kuliah. Namun, aplikasi ini kemudian dikembangkan lebih serius berkat dukungan penelitian dari kampus yang bekerja sama dengan Avalon AI dan Universitas Trunojoyo Madura (UTM).
Dalam konteks pengembangan AI, Emilia AI terbilang cukup berbeda. Aplikasi ini sepenuhnya open source, artinya model LLM, dataset, Unity, hingga kode Python dibuka untuk publik.
Selain itu, jika umumnya AI berfokus pada penyelesaian masalah secara umum, tim mahasiswa ini menekankan peran Emilia AI sebagai pendukung kesehatan mental remaja.
Aplikasi ini berfungsi sebagai pertolongan pertama, dan jika gejala dinilai serius, program akan otomatis mengarahkan pengguna untuk mendapatkan perawatan ke psikolog.
Baca juga: ITS Gelar World Robot Olympiad 2025, Dorong Regenerasi Bidang Teknologi Robotika
Sejalan dengan itu, tim terus mengembangkan aplikasi ini dengan memberikan batasan serta validasi konten psikologis bersama dosen Psikologi UTM, Kurrota Aini.
Dosen Teknik Informatika ITS, Hadziq Fabroyir, menyatakan bahwa penelitian ini didorong untuk melibatkan mahasiswa lebih aktif.
“Kami ingin menciptakan atmosfer penelitian yang lebih partisipatif. Idenya datang dari mereka, kami hanya memberi arahan agar lebih terarah,” tuturnya, dikutip adri laman ITS.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Its.ac.id