INDOZONE.ID - Sekelompok mahasiswa Institut Teknologi Bandung (ITB) yang tergabung dalam Tim iConic, menciptakan terobosan berupa helm pintar berbasis teknologi Internet of Things (IoT) bernama SADAR Helmet.
Berkat inovasi tersebut, tim yang beranggotakan tiga mahasiswa Teknik Industri angkatan 2023, yaitu Mahesya Friemay Romadhoni, Muhammad Yasser Saputro, dan Rizky Miftah Alfiah, berhasil meraih juara kedua dalam ajang nasional Smart Safety Competition (SASECOM) 2026.
Kompetisi yang diadakan oleh Forum OSH Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Diponegoro ini diikuti oleh berbagai finalis dari seluruh Indonesia, dengan fokus pada keselamatan kerja dan inovasi digital.
Baca juga: Mahasiswa ITB Juara Kompetisi Internasional Petrolida 2026, Usung Inovasi Migas Rendah Karbon
SADAR Helmet dirancang bukan hanya sebagai pelindung kepala saat terjadi benturan, melainkan sebagai alat pencegah kecelakaan.
Mahesya, ketua tim, menjelaskan bahwa sebagian besar sistem keselamatan saat ini bersifat reaktif atau baru bekerja setelah kecelakaan terjadi.
Sebaliknya, SADAR Helmet bekerja secara preventif dengan mendeteksi gejala kantuk sejak dini, sebelum pengendara benar-benar kehilangan kesadaran.
Helm ini dilengkapi dengan teknologi sensor canggih, termasuk sensor Photoplethysmography (PPG) yang berfungsi memantau detak jantung serta variasi ritme jantung (Heart Rate Variability) pengendara.
Selain itu, terdapat sensor akselerometer dan giroskop yang bertugas membaca pola pergerakan kepala secara real-time.
Jika sistem mendeteksi tanda-tanda pengendara mulai mengantuk, helm akan segera memberikan peringatan berupa getaran, suara, serta notifikasi digital agar pengendara kembali terjaga.
Baca juga: Mahasiswi UNAIR Ciptakan SAPI TEDUH, Teknologi Cerdas Penambah Produksi Susu Sapi
Salah satu nilai tambah dari inovasi yang dibuat adalah kemampuannya untuk dipasang pada helm standar SNI yang sudah ada di pasaran tanpa harus mengubah struktur aslinya (retrofit).
Hal ini menjadikan SADAR Helmet solusi yang lebih ekonomis dibandingkan sistem deteksi kantuk berbasis kamera atau sensor otak (EEG) yang biasanya jauh lebih mahal.
Dalam proses pembuatannya, tim menggunakan perangkat lunak desain seperti SolidWorks dan AutoCAD untuk merancang prototipe.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Itb.ac.id