INDOZONE.ID - "Tuesday With Morrie" adalah salah satu buku memoar paling berpengaruh yang ditulis oleh Mitch Albom, seorang jurnalis sekaligus penulis Amerika.
Diterbitkan pertama kali pada tahun 1997, buku ini telah terjual jutaan kopi sejak cetakan edisi pertamanya, dan menjadi salah satu karya non fiksi yang paling dikenang.
Buku ini diangkat dari kisah nyata, dimulai ketika Mitch Albom masih menjadi mahasiswa di Universitas Brandeis. Ia memiliki seorang Profesor favorit bernama Morrie Schwartz.
Baca juga: Top 3 Rekomendasi Buku untuk Mahasiswa Upgrade Diri, Good Books, Good Reads!
Morrie menjadi mentor Mitch selama masa perkuliahannya. Bukan hanya sekedar mentor akademik, tetapi juga mentor kehidupan Morrie.
Setelah bertahun-tahun semenjak kelulusan Mitch Albom, Ia lama tidak bertemu dengan Profesornya, Morrie, Kemudian pada tahun 1995, Morrie diwawancarai oleh Ted Koppel di acara Nightline ABC, dan Mitch melihatnya di TV.
Ia memutuskan untuk menghubungi Morrie kembali setelah itu. Saat pertemuan kembalinya ini, Mitch mengetahui bahwa Morrie mengidap ALS (Amyotrophic Lateral Sclerosis), penyakit saraf yang perlahan melumpuhkan tubuh namun membiarkan pikiran tetap jernih hingga akhir hayat.
Tergerak oleh kondisi mantan gurunya, Mitch mulai mengunjungi Morrie setiap hari Selasa selama beberapa bulan terakhir hidup Morrie.
Dari pertemuan-pertemuan inilah lahir serangkaian percakapan mendalam yang kemudian dituangkan Mitch menjadi buku ini semacam "kelas terakhir" yang diajarkan Morrie kepada muridnya, namun kali ini dengan topik yang jauh lebih personal, yaitu hidup itu sendiri.
Pada bab pertama yang berjudul "We Talk About the World", Mitch memperhatikan tumpukan koran bekas di dapur Morrie dan bertanya apakah gurunya itu masih peduli mengikuti berita meski tengah sekarat.
Morrie menjawab bahwa penyakitnya justru membuatnya semakin mampu merasakan penderitaan orang lain seolah itu miliknya sendiri.
Bab-bab berikutnya membahas berbagai sisi kehidupan seperti rasa kasihan pada diri sendiri, penyesalan, kematian, keluarga, emosi, dan pengampunan, namun topik kematianlah yang paling membekas.
Sejak divonis sakit hingga akhir hayatnya, Morrie tidak pernah menahan diri atau menunjukkan rasa takut, sebab baginya begitu seseorang belajar bagaimana menghadapi kematian.
Di saat itulah ia sesungguhnya belajar bagaimana menjalani hidup, sebuah keyakinan yang membuatnya ingin mati dalam ketenangan tanpa seorang pun menyaksikan.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: NPR, Gramedia