Mahasiswa Institut Teknologi Bandung (ITB) Ghifari Jauhar Yajri . (itb.ac.id)
INDOZONE.ID - Mahasiswa Institut Teknologi Bandung (ITB) Ghifari Jauhar Yajri menorehkan prestasi di kancah nasional.
Ghifari meraih Juara 1 pada PTGC 2025 berkat gagasan terapan yang menjawab dua persoalan klasik petani di wilayah 3T (terdepan, terluar, tertinggal) yakni akses energi dan ketersediaan air bersih.
Baca juga: Berani Coba Hal Baru! 2 Mahasiswi Cantik ITB Ini Sabet Juara 2 Broadcasting di Unpad
Kemenangan ini gak hanya menempatkan nama Ghifari di podium, tetapi juga menyorot arah riset kampus yang semakin dekat dengan kebutuhan warga lapangan.
Usulan yang dibawa Ghifari menggabungkan pembangkit listrik tenaga hybrid (matahari atau arus air atau angin sesuai potensi lokal).
Dengan sistem pengolahan air kompak. Pembangkit berperan sebagai “jantung” yang menyuplai daya untuk pompa irigasi, pengisian baterai, dan proses pemurnian air.
Sementara unit pengolahan air memanfaatkan filtrasi bertingkat, ultrafiltrasi, hingga disinfeksi UV untuk menghasilkan air baku yang aman diminum dan bisa dipakai untuk pascapanen.
Pendekatan ini dirancang modular dengan komponen bisa dipasang-lepas sesuai kebutuhan desa. Untuk daerah pesisir yang berangin, modul kincir mini lebih diprioritaskan.
Lalu untuk daerah sungai, modul turbin arus lambat yang tahan sampah diterapkan dan di lahan terbuka, panel surya menjadi tulang punggung. Dengan cara itu, satu kerangka teknis dapat diadaptasi pada lanskap Indonesia yang sangat beragam.
Di lapangan, biaya pemeliharaan sering kali jadi kendala. Ghifari menekankan kalau komponen lokal, suku cadang mudah didapat, dan skema perawatan sederhana.
Panel kontrol dibuat dengan antarmuka yang ramah warga, sementara sensor dasar (level air, tegangan, kualitas air) terhubung ke dashboard IoT yang bisa dipantau lewat ponsel.
Data ini membantu kelompok tani mengambil keputusan dari jadwal pompa, penggunaan air hemat, hingga rencana servis berkala.
Untuk memperkecil biaya operasional, sistem mengusung manajemen energi cerdas yakni prioritas listrik diarahkan ke pompa saat siang, sedangkan proses disinfeksi/charging dialihkan ke malam dengan daya baterai.
Di musim hujan, modul panen air (rainwater harvesting) diintegrasikan lalu di musim kemarau, dan drip irrigation membantu efisiensi air hingga jauh lebih hemat dibanding penyiraman konvensional.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Itb.ac.id