Diskusi Publik Seni dan Agama (sumber: Press Release)
INDOZONE.ID - Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Seni Rupa dan Desain (BEM FSRD) Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta menggelar diskusi publik dengan tema “Seni dan Agama: Suara Lintas Generasi di Masa Kini”. Forum ini menghadirkan tokoh lintas agama dan akademisi untuk berdialog mengenai posisi seni sebagai medium spiritual, moral, dan budaya di era modern.
Empat narasumber utama hadir dalam acara ini, yaitu Ps. Fiecko Aprilio Soselisa (Pastor Gereja C3 New Generation), Ust. Yaser Arafat, M.A. (Dosen FUPI UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta), Dr. Matheus Wasi Bantolo, S.Sn., M.Sn. (Dosen FSP ISI Surakarta), serta Much. Sofwan Zarkasi, S.Sn., M.Sn. (Dosen FSRD ISI Surakarta). Diskusi dipandu oleh Ketua BEM FSRD ISI Surakarta, Alung Mangku Buana.
Ps. Fiecko Aprilio menegaskan bahwa seni dalam pandangan Kristen merupakan talenta dari Tuhan yang wajib digunakan dengan penuh tanggung jawab. “Kebebasan berkarya dalam iman Kristen bukan berarti tanpa batas. Yang terpenting adalah tujuan: apakah karya itu memuliakan Tuhan atau justru menjadi batu sandungan bagi orang lain,” jelasnya.
Sementara itu, Ust. Yaser Arafat menjelaskan perspektif Islam yang melihat seni sebagai perwujudan keindahan (al-jamal), keagungan (al-jalal), dan kesempurnaan (al-kamal). “Seni merupakan bagian dari kebudayaan universal. Setiap manusia, apapun agamanya, terpanggil untuk menghadirkan keindahan dalam hidup. Namun, Islam menekankan pentingnya menjaga keseimbangan agar seni tidak berlebihan,” paparnya.
Much. Sofwan Zarkasi menilai seni sebagai bagian dari ibadah. “Setiap karya seni adalah sarana mendekatkan diri. Kebebasan berekspresi memang perlu, tetapi tetap ada batas. Tidak ada kebebasan yang sepenuhnya absolut,” ujarnya.
Diskusi Publik Suara Lintas Generasi (sumber: press release)
Adapun Dr. Matheus Wasi Bantolo menekankan perlunya kesadaran dalam berkarya. “Agama dan seni tidak harus dipandang sebagai dua hal yang membatasi. Semua karya seni adalah anugerah. Yang terpenting, bagaimana kita memposisikan diri dan ke mana arah karya tersebut ditujukan,” ungkapnya.
Moderator, Alung Mangku Buana, menyebut diskusi ini sebagai ruang refleksi mahasiswa seni. “Kami berharap generasi muda, khususnya mahasiswa seni, mampu lebih bijak memaknai kebebasan berkarya. Seni bukan hanya milik pribadi, tetapi juga menyangkut masyarakat, agama, dan peradaban,” katanya.
Diskusi ditutup dengan kesepahaman bersama bahwa seni dan agama saling melengkapi. Seni tidak hanya menjadi wadah ekspresi, tetapi juga sarana untuk mengingat Sang Pencipta, menjaga harmoni, dan memperkuat kehidupan sosial.
“Kenalilah dirimu, maka engkau akan mengenal Tuhan. Jadikan seni sebagai jalan penghayatan, sebab seni adalah bahasa universal lintas generasi untuk menyampaikan pesan spiritual.”
Acara ini membuktikan bahwa seni mampu menjembatani iman, budaya, dan generasi, sekaligus menjadi kekuatan dalam membangun kehidupan yang lebih bermakna.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Press Release