Ilustrasi uji statistik (freepik.com)
INDOZONE.ID - Buat mahasiswa yang lagi mengerjakan skripsi atau penelitian, justru jadi senjata utama biar hasil penelitian bisa dipertanggungjawabkan secara ilmiah.
Berikut langkah-langkah untuk menentukan uji statistik yang tepat, supaya penelitian gak cuma berdasarkan dugaan, tapi benar-benar evidence-based.
Baca juga: Untuk Mahasiswa! Ini Cara Baca Jurnal Cuma 10 Menit: Anti Stres, Skripsi Efisien
Kalau ingin mencari tahu apakah dua hal punya hubungan. Misalnya, durasi belajar dan nilai ujian, maka uji korelasi adalah kuncinya.
Gunakan Pearson untuk data normal dan Spearman buat data ordinal atau gak normal. Dari sini peneliti bisa tahu, apakah hubungan antarvariabel kuat, lemah, atau bahkan berlawanan arah.
Uji ini cocok kalau ingin membandingkan dua kelompok yang gak saling berkaitan, seperti perbedaan nilai IPA antara kelas X IPA 1 dan X IPA 2. Tapi, jangan lupa untuk pastikan dulu data lolos uji normalitas dan homogenitas sebelum pakai metode ini.
Kalau peneliti ingin menguji efek atau perubahan setelah intervensi tertentu, ini uji yang pas. Misalnya, membandingkan nilai pre-test dan post-test setelah mengikuti kelas tambahan.
Uji Analysis of Variance (ANOVA) digunakan untuk mengetahui perbedaan rata-rata di tiga kelompok atau lebih. Contohnya, peneliti bisa membandingkan nilai rata-rata siswa kelas X, XI, dan XII. Kalau datanya tidak normal, alternatifnya adalah Kruskal-Wallis.
Kalau peneliti ingin tahu seberapa besar pengaruh satu faktor terhadap yang lain, pakai regresi. Misalnya, seberapa besar pengaruh intensitas belajar terhadap nilai ujian.
Ada dua jenis, yaitu regresi linear sederhana (satu variabel bebas) dan regresi berganda (lebih dari satu variabel bebas).
Sebelum semua uji di atas, peneliti wajib tahu dulu apakah data yang diteliti terdistribusi normal atau tidak. Jadi, gunakan metode Shapiro-Wilk untuk sampel kecil, atau Kolmogorov-Smirnov untuk sampel besar.
Kalau variabel bersifat kategorik (misal, jenis kelamin dan pilihan ekstrakurikuler), maka gunakan uji Chi-Square. Uji ini membantu melihat apakah dua kategori punya hubungan signifikan atau tidak.
Statistik memang sering dianggap momok, tapi kalau dipahami dari logikanya, setiap uji justru bantu kamu bicara pakai data, bukan asumsi.
Baca juga: 6 Tips Buat Judul Skripsi yang Tepat: Jangan Terlalu Panjang dan Umum
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Instagram/@bantukuliahmu.id