Ilustrasi mahasiswa yang menjaga rahasia (freepik.com)
INDOZONE.ID - Di lingkungan kampus yang serba terbuka, berbagi cerita terasa seperti hal yang lumrah. Media sosial, tongkrongan kantin, hingga grup kelas sering kali menjadi tempat untuk meluapkan keluh kesah.
Tapi gak semua hal harus disampaikan ke orang lain, terutama kepada teman yang belum sepenuhnya dipercaya. Terlalu terbuka justru bisa memicu kesalahpahaman, gosip, bahkan drama yang seharusnya gak perlu terjadi.
Ada lima hal penting yang sebaiknya disimpan untuk diri sendiri. Hal-hal yang tampak sederhana, tapi bisa menentukan cara orang lain memperlakukan seseorang di lingkungan kampus.
Kehidupan kuliah tidak selalu berjalan mulus. Ada saatnya merasa gagal dalam ujian, gak cocok dengan dosen, atau terjebak dalam rasa lelah menghadapi skripsi. Semua itu wajar. Tapi, gak setiap rekan kuliah mampu menjadi pendengar yang bijak.
Bercerita tentang masalah pribadi atau akademik secara terbuka bisa menimbulkan pandangan negatif, bahkan menjadi bahan perbincangan di belakang.
Menenangkan diri dan mencari tempat curhat yang tepat, seperti konselor kampus atau teman dekat yang dipercaya, jauh lebih menentramkan daripada membiarkannya menjadi gosip di koridor fakultas.
Perselisihan dalam kelompok tugas, perbedaan pendapat di organisasi, atau ketegangan dengan dosen pembimbing adalah bagian dari dinamika kampus.
Tapi lingkungan mahasiswa biasanya dikenal cepat menyebarkan cerita dan sedikit kesalahan ucapan bisa berubah menjadi drama yang tak terkendali.
Menyelesaikan masalah langsung dengan pihak terkait jauh lebih baik daripada membuka pintu untuk rumor yang bisa merusak reputasi.
Uang saku, biaya hidup, atau honor dari pekerjaan sampingan sebaiknya cukup diketahui oleh diri sendiri. Di dunia kampus, topik keuangan bisa menjadi pemicu penilaian sosial siapa yang “mampu”, siapa yang “pas-pasan”.
Jadi menjaga informasi keuangan pribadi berarti menjaga kenyamanan dan kemandirian selama menempuh studi.
Setiap mahasiswa membawa cerita sebelum duduk di bangku kuliah. Ada yang datang dengan luka, kegagalan, atau pengalaman hidup yang berat.
Tapi, gak semua orang mampu memahami latar belakang seseorang tanpa menghakimi. Jadi biarkan masa lalu menjadi guru yang membentuk karakter, bukan bahan cerita yang bisa disalahartikan di lingkungan yang penuh dinamika sosial seperti kampus.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Instagram/@mudahbergaul