INDOZONE.ID - Pencandu narkoba identik dengan kerusakan moral. Selain moral, sistem saraf seorang pencandu pun mengalami kerusakan.
Bagian di dalam otak yang mengatur berbagai emosi, seperti rasa senang, keinginan untuk bertindak, dan kemampuan dalam mengatur diri, dirusak oleh zat adiktif. Menilik kerusakan tersebut, tak ayal proses pemulihan seorang pencandu tidaklah mudah.
Untuk memudahkan proses pemulihan itu, kelompok mahasiswa Universitas Gadjah Mada (UGM) menelurkan sebuah gagasan, yang memandang rehabilitasi bukan sekadar kemauan individu, melainkan tantangan rekayasa yang dapat ditelaah secara ilmiah.
Gagasan tersebut kemudian diwujudkan dalam sebuah riset yang digagas oleh mahasiswa melalui Program Kreativitas Mahasiswa Karsa Cipta (PKM-KC), yang berisikan Melvino Rizky Putra Wahyudi, Dhimas Setya Adi Nugraha, Muhammad Basel Fawaz Sigit, Reza Hanif Firmansyah, dan Putri Eka Desintha.
Mereka bergerak di bawah pendampingan dosen Ridwan Wicaksono, S.T., M.Eng., Ph.D. Salah satu anggota kelompok tersebut, Melvino, mengatakan inovasi yang dikembangkan merupakan sistem terapi dengan nama NeoSemar.
“NeoSemar dirancang untuk berdialog secara langsung dengan otak dan membantu memulihkan fungsinya tanpa melalui prosedur bedah," ungkap Melvino.
Baca juga: Tren Positif Terus Meningkat, Rusia Tambah Kuota Beasiswa untuk Mahasiswa Indonesia
Dengan meningkatnya jumlah pencandu narkoba saat ini, Melvino merasa proyek inovatif ini sejalan dengan isu buruk tersebut.
“NeoSemar hadir sebagai solusi berbasis teknologi. Mengintegrasikan dua teknologi medis mutakhir, yakni TMS dan EEG, dalam satu sistem terpadu,” jelasnya.
Lalu, Dhimas menjelaskan bahwa perangkat yang dikembangkan timnya bekerja dengan memanfaatkan teknologi EEG. Tugas teknologi itu adalah merekam dan memetakan aktivitas otak, khususnya pada area yang terindikasi mengalami gangguan.
Berdasarkan hasil pemetaan tersebut, teknologi Transcranial Magnetic Stimulation (TMS) kemudian memberikan rangsangan berupa gelombang elektromagnetik terarah, guna menstimulasi serta menormalkan kembali sirkuit saraf yang terdampak.
Seluruh rangkaian terapi ini dapat dipantau secara daring oleh tenaga medis melalui sistem berbasis Internet of Things (IoT). Jadi, pemberian terapi yang lebih personal dan efisien pun memungkinkan.
Lebih lanjut, Dhimas mengungkapkan bahwa proyek pengembangan NeoSemar telah memperoleh persetujuan etik dari Komisi Etik Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan (FK-KMK) UGM.
Baca juga: Dosen Ilmu Komunikasi UDINUS Menggelar Serial Buku PR Indonesia di Jakarta
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Pers Rilis, UGM