INDOZONE.ID - Pemanfaatan energi panas bumi (geotermal) selama ini hanya identik dengan pembangkitan listrik. Namun di tangan para peneliti Universitas Gadjah Mada (UGM), potensi geotermal melampaui fungsi konvensionalnya.
Di Lahendong, Sulawesi Utara, endapan silika dari fluida panas bumi yang merupakan produk ikutan kini diubah secara inovatif menjadi penyubur dan penguat tanaman (booster). Endapan tersebut berdasarkan studi mengandung sekitar 60 unsur dan senyawa ikutan yang bersifat menyerupai abu vulkanik, sehingga mampu menyuburkan tanah. Endapan ini diolah dengan teknologi nano sehingga menjadi cairan yang dapat diserap optimal oleh tanaman.
Kolaborasi lintas keilmuan menjadi kunci keberhasilan riset ini. Para pakar UGM yang terdiri dari Ir. Pri Utami, sebagai ahli geotermal, Ronny Martien, dengan keahlian nanoteknologi, dan Dr. Ngadisih, sebagai ahli konservasi tanah dan air, bekerja sama dengan PT Pertamina Geothermal Energy (Tbk) (PT PGE) Unit Lahendong untuk menciptakan booster pertanian cair yang diberi nama ‘Katrili’, terinspirasi dari tarian syukur masyarakat Minahasa.
Booster ini diaplikasikan dengan cara dikocor atau disemprot ke tanaman dalam dosis terukur. Produk tersebut telah melewati uji laboratorium dan terbukti aman serta efektif.
“Katrili telah menunjukkan hasil positif pada empat komoditas pertanian di Minahasa, yakni padi, tomat, kacang Kawangkoan, dan bawang merah,” jelas Pri Utami, Sabtu (31/5/2025).
Sinergi ini sejalan dengan visi PT PGE untuk menjadikan geotermal sebagai solusi multi-sektor. Direktur Operasi PT PGE, Ahmad Yani, menyatakan bahwa pendekatan Geothermal Beyond Energy, menempatkan sumber daya alam sebagai solusi berkelanjutan tidak hanya untuk kebutuhan listrik saja.
"Visi ini memberi ruang besar bagi riset-riset terapan yang berdampak langsung pada masyarakat. Riset nanosilika dari endapan geotermal adalah salah satu contoh nyatanya," Ahmad Yani.
Dukungan juga datang dari pemerintah daerah yang melihat potensi besar dalam inovasi ini. Bupati Minahasa, Robby Dondokambey, menegaskan bahwa hasil riset ini relevan dengan kebutuhan masyarakat Minahasa yang sebagian besar adalah petani.
Dalam kesempatan itu, ia juga berharap distribusi booster Katrili dapat diperluas ke wilayah pertanian lain di Sulawesi dan Indonesia. Keberhasilan uji lapangan memperkuat harapan agar pemanfaatan bahan lokal dan ramah lingkungan ini segera terealisasi secara luas.
“Inovasi ini membuat masyarakat merasakan langsung manfaat dari kehadiran industri panas bumi,” ujar Robby.
Wakil Bupati Minahasa, Vanda Sarundajang, menambahkan, akan mengambil langkah konkret dengan menjadikan halaman rumahnya di Kawangkoan sebagai demplot percontohan.
BACA JUGA Civitas UGM dan Nakes Beberkan Alasan Tolak Kolegium Kesehatan Baru: Kami Bukan Menolak, Tapi...
Ia menanam kacang Kawangkoan menggunakan booster Katrili dan mengajak warga untuk belajar dari pendekatan tersebut. Dengan harapan, masyarakat dapat melihat hasilnya secara langsung dan terinspirasi untuk bertani secara berkelanjutan. Pendekatan ini menjadi contoh bagaimana inovasi akademik bisa diterapkan secara inklusif dan praktis.
“Saya ingin agar masyarakat melihat dan belajar tentang pertanian berkelanjutan dengan booster berbahan lokal dan ramah lingkungan ini,” ucap Vanda.
Hasil uji lapangan disambut dengan panen raya yang meriah pada 26 Mei silam di Desa Tonsewer, Kecamatan Tompaso, Kabupaten Minahasa. Peristiwa ini menjadi simbol keberhasilan sinergi antara akademisi, industri, dan masyarakat.
Kegiatan panen ini dilakukan bersama petani lokal dan ditutup dengan tarian Katrili oleh seluruh undangan sebagai bentuk syukur dan apresiasi.
Wakil Dekan Bidang Penelitian, Pengabdian kepada Masyarakat, dan Kerja Sama Fakultas Teknik, Ir. Ali Awaludin, berharap lapangan panas bumi lain di Indonesia yang memiliki endapan serupa dapat menerapkan pendekatan ini untuk menjawab tantangan kelangkaan pupuk dan kerusakan lingkungan.
Selain itu, terdapat sesi dialog bersama petani, Petani dari kelompok pria kaum Bapa Kerapatan Gereja Protestan Minahasa (KGPM) dan Gereja Masehi Injili Minahasa (GMIM) menyampaikan bahwa Katrili tetap bekerja optimal dalam kondisi kemarau, musim penghujan, hingga cuaca ekstrem.
BACA JUGA Cara UGM dan Pemkot Yogyakarta Atasi Sampah dengan Pengembangan Kampung Tematik
"Booster ini membantu meningkatkan produktivitas pertanian sekaligus mengurangi penggunaan pupuk dan pestisida kimia. Mereka juga mencatat adanya perbaikan kualitas tanah dan daya tahan tanaman terhadap penyakit," ujar Ali.
Kendati demikian, melalui riset lintas disiplin yang berpihak pada kepentingan rakyat, UGM hadir mendampingi petani untuk membangun kemandirian dalam mengelola sumber daya lokal secara berkelanjutan, sebuah langkah kecil menuju pertanian masa depan yang lebih adil, sehat, dan lestar
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Keterangan Pers