Terlebih, dengan penghasilan ayahnya, Timbul Marsono (54), yang tidak selalu menentu sebagai supir truk pengangkut jerami untuk pakan ternak. Timbul sehari-hari menjalani pekerjaan sebagai sopir untuk mengemudi mobil truk milik tetangganya.
“Jerami saya ambil dari desa lain, lalu dijual ke warga desa yang punya ternak,” kata Timbul.
Di saat musim penghujan, kata Timbul, tidak banyak warga yang begitu membutuhkan jerami pakan ternak. Ia harus memutar otak untuk tetap menghidupi keluarga kecilnya, dengan berkeliling melakukan jual beli barang bekas.
“Kalo lagi sepi, kita cari rongsokan,” katanya.
Sementara Darini (52), ibu dari Rofi menambahkan, untuk mencari jerami, suaminya harus berangkat pagi-pagi buta dan kembali larut malam sampai jerami tersebut terjual habis. Penghasilan suaminya sebagai sopir truk berkisar Rp 1.500.000 per bulan. Tergantung dengan jumlah permintaan jerami.
BACA JUGA: Dosen Fisipol UGM Sebut Komika dan Kritiknya Bantu Tingkatkan Kesadaran Politik Masyarakat
“Sebulan itu bisa delapan sampai sepuluh kali berangkat, tapi gak mesti. Sekali pulang dapat seratusan ribu,” ucap Darini.
Di tengah keterbatasan, Timbul selalu mengupayakan segala hal yang terbaik untuk anak-anaknya. Timbul mengaku beruntung memiliki anak yang mandiri, terbukti dengan kebiasaan Rofi yang selalu rajin belajar, bahkan sampai larut malam.
"Belajarnya sampai jam 1 sampai 2 pagi apalagi jika menjelang ujian,” kata Timbul.
Rofi kerap mendapatkan ranking 1 semasa SD dan SMP-nya. Selain itu, kegemarannya untuk membaca, pernah membawanya memenangkan lomba penulisan puisi, sehingga ia dapat menerbitkan puisinya dalam buku 'Catatan Perjuangan' bersama Najwa Shihab.
Dalam kesempatan yang sama Rofi bilang, kemauan dan disiplin untuk belajar karena termotivasi dari orang tuanya yang selalu semangat dalam belajar dan meraih cita-cita.
“Bapak ibu selalu memotivasi saya untuk bisa sekolah lebih tinggi, walaupun dengan keadaan ekonomi yang seperti ini,” ujar anak bungsu dari dua bersaudara dengan mata berkaca-kaca.
Sang Ayah selalu meyakinkan Rofi untuk mendaftar kuliah ke perguruan tinggi dan mendoakan agar anaknya bisa mendapatkan beasiswa.
“Bapak selalu meyakinkannya, pasti ada kesempatan beasiswa di masa depan, dan bagaimanapun saya akan dapat berkuliah,” kenang Rofi.
Bagi Rofi, orang tuanya merupakan sosok yang sangat sabar dan telah berkorban untuk mengusahakan yang terbaik bagi anaknya tanpa pernah merasa terbebani. Terlebih, kedua orang tuanya yang selalu sabar mengurus Kakaknya yang sedari kecil mengalami kelumpuhan.
“Tahun lalu kakak saya berpulang, selama 27 tahun ibu merawat di rumah dan bolak-balik masuk rumah sakit,” katanya.
Alasan Memilih Teknologi Pertanian
Perihal cita-citanya, Rofi berharap kelak dapat bekerja di Kementerian Pertanian. Salah satu motivasinya untuk mengambil prodi Teknik Pertanian di Fakultas Teknologi Pertanian.
“Saya melihat di teknik pertanian itu lebih menarik karena ada tekniknya, dan saya ingin nantinya saya bisa menjadi salah satu kontributor dalam menginovasi produksi maupun sarana di bidang pertanian Indonesia,” harapnya.
Rofi mengaku sangat bersyukur diterima di UGM dan mendapatkan beasiswa Subsidi UKT sebesar 100 persen dari Kampus UGM, sehingga membantu beban ekonomi keluarganya.
BACA JUGA: UGM Berduka, Guru Besar Fakultas Kehutanan Prof. Soemardi Meninggal Dunia
Sang ibundanya pun mengungkapkan rasa terima kasihnya kepada UGM yang membantu anaknya untuk mendapatkan kesempatan berkuliah, dan beasiswa UKT di tengah kondisi keterbatasan ekonominya keluarganya.
“Saya sangat berterima kasih kepada pihak UGM, yang mana telah menerima anak saya Rofidah dengan subsidi 100 persen. Anak saya mendapat biaya kuliah gratis, sekali lagi terima kasih,” pungkas ibunda Rofi.