Rabu, 02 JULI 2025 • 17:30 WIB

Inflasi IPK Nyata! “Harga” IPK 4.0 Kini Hanya Tiket Masuk Kerja

Author

null (ugm.ac.id)

INDOZONE.ID - Fenomena IPK mendekati 4.0 tidak lagi menjadi hal yang langka. Bagi tim HR, IPK tinggi mungkin masih dilirik, namun kini perannya lebih sebagai ‘kesan pertama’ saja.

Saat ini, kita memasuki era di mana meraih predikat cumlaude atau bahkan summa cumlaude menjadi lebih umum. 

Hal ini sangat kontras dengan era 2000-an, di mana lulus dengan IPK 3.0 saja sudah dianggap sebagai sebuah pencapaian luar biasa.

Sebagai bukti, data dari berbagai universitas ternama menunjukkan tren ini. 

Baca juga:  BINUS Malang Cetak Lulusan Digital Technopreneur Siap Kerja Lewat 2.200 Mitra Global

  1. Pada tahun akademik 2023/2024, Universitas Gadjah Mada (UGM) melaporkan bahwa sekitar 61,2% dari 2.306 lulusan program sarjana dan diplomanya meraih predikat cumlaude, dengan rata-rata IPK mencapai 3,63. 

  2. Di periode yang sama, Universitas Indonesia (UI) meluluskan 4.664 mahasiswa program sarjana, dengan 46% di antaranya berhasil meraih predikat cumlaude

  3. Sementara itu, Universitas Airlangga (UNAIR) pada wisuda Maret 2024 mencatat 45,8% dari 1.079 wisudawan lulus dengan predikat yang sama.

Mengapa ini Terjadi?

Perbedaan Zaman

  1. Dulu, Sistem penilaiannya ditekankan pada nilai Ujian Akhir Semester (UAS), sehingga bobot nilai terbesar hanya bergantung pada UAS. Sekarang, sistem penilaiannya lebih beragam dan lebih terbagi dengan rata. Contohnya tugas proyek, presentasi, keaktifan dalam kelas.

  2. Dulu, akses informasi yang terbatas dan bersumber pada buku di perpustakaan atau catatan dosen. Tapi sekarang, akses informasi jauh lebih tersebar. Jawaban, tutorial, referensi bisa ditemukan di berbagai platform digital (Google, YouTube, AI)

Mahasiswa Sekarang lebih Strategis

Ini bukan soal siapa yang lebih cerdas, melainkan soal strategi. 

  1. Mahasiswa sekarang dapat membuat kelompok belajar untuk berbagi materi dan pemahaman, bahkan sangat memungkinkan untuk berbagi wawasan dengan mahasiswa mancanegara melalui teknologi.

  2. Mahasiswa sekarang lebih memanfaatkan teknologi dan pengetahuannya untuk mendapatkan jalan tercepat dengan hasil yang maksimal.

Dampaknya ke Dunia Kerja

Baca juga: Aktif Organisasi Plus Dapat Beasiswa Bergengsi: Intip Kisah Bimo Peraih IISMA

Akibatnya, IPK mendekati sempurna menjadi lebih mudah diraih. 

Konsekuensinya, nilai IPK yang tinggi ini "jatuh harga" dan tidak lagi seistimewa dulu di mata perekrut. 

Kini IPK tinggi bukan lagi pembeda yang kuat jika kamu melamar kerja.

Hal ini sejalan dengan prinsip kelangkaan (scarcity): semakin langka sesuatu, semakin tinggi nilainya. Sebaliknya, saat sesuatu menjadi umum, ia tidak lagi dianggap spesial.

Dengan kata lain, IPK tinggi kini berfungsi sebagai tiket dasar untuk bisa lolos seleksi administratif, bukan lagi sebuah tiket VIP yang menjamin diterima kerja.

Baca juga: 5 Jurusan Kuliah yang Cepat Dapat Kerja Setelah Lulus

“Mata Uang” Baru di Dunia Kerja

  • Portofolio Proyek Nyata: Hasil karyamu bisa menjadi nilai utama yang dipertimbangkan.

  • Sertifikasi Keahlian: Bukti kamu menguasai skill yang relevan dengan industri.

  • Pengalaman: Magang/organisasi lebih diutamakan sebagai bukti kamu bisa bekerja dalam tim, mengelola waktu dengan baik, punya inisiatif.

  • Skill Komunikasi & Networking: Kemampuan menjual ide dan membangun relasi.

Nah, sekarang kamu paham kan kenapa kadang terasa sulit diterima perusahaan meskipun nilai akademikmu sempurna. Tapi ini bukan alasan untuk berkecil hati. 

Justru, ini adalah momen untuk fokus membangun 'mata uang' yang sesungguhnya: portofolio yang memukau, sertifikasi keahlian yang relevan, dan pengalaman nyata. Karena di dunia kerja modern, bukti karya berbicara lebih keras daripada deretan angka.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Instagram/@ioda_academy

TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU