INDOZONE.ID - Riuh tawa dan lantunan ayat suci kini kembali terdengar di Masjid Al Amin, Dusun Macanan, Desa Tajuk, Kecamatan Getasan, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah yang berada di kaki Gunung Merbabu.
Setelah sempat vakum cukup lama, Taman Pendidikan Al-Qur’an (TPQ) di dusun ini akhirnya mulai aktif kembali berkat tangan-tangan muda mahasiswa KKN Universitas Diponegoro.
Tidak hanya sekadar mengajar, para mahasiswa KKN ini juga berupaya memulihkan semangat anak-anak untuk belajar membaca iqro’ dan Al-Qur’an.
Baca juga: Lima Mahasiswa UI Raih Prestasi di Amerika Serikat, Wujudkan Mimpi dari Ide dan Kayu Balsa
Setiap sore dari hari Senin hingga Kamis, mushola dusun menjadi saksi antusiasme mereka yang luar biasa.
Tidak jarang pula terdengar suara berlomba-lomba membaca huruf hijaiyah, diselingi candaan polos yang membuat suasana belajar menjadi lebih menyenangkan.
“Aku seneng banget bisa ngaji diajarin sama kakak-kakak KKN soalnya seru banget,” ujar Azizah, salah satu santri cilik yang rutin hadir.
Metode belajar mereka dirancang agar tidak membosankan. Selain mengajarkan iqro’ dan Al-Qur’an, mahasiswa KKN UNDIP juga menampilkan kisah-kisah nabi lewat video dan dongeng ringan untuk memberikan motivasi lebih kepada anak-anak.
Baca juga: Seleksi Sekolah Kedinasan Resmi Dibuka! Cek Proses Tahapan dan Biayanya di Bawah Ini
Sesekali diadakan kuis dan permainan untuk menambah keceriaan. Tidak hanya itu, mahasiswa KKN juga memperkenalkan program edukasi mengenai privasi tubuh agar anak-anak memahami bagian tubuh mana saja yang tidak boleh disentuh orang lain.
Untuk menambah wawasan, anak-anak juga diajak melakukan eksperimen sains sederhana seperti membuat “gunung meletus” dari baking soda dan cuka yang membuat suasana belajar semakin seru.
Program ini tidak hanya memberi manfaat edukasi keagamaan, tetapi juga memperkuat hubungan sosial antara anak-anak, para orang tua, dan mahasiswa KKN.
“Kami sangat berterimakasih kepada Mas dan Mbak KKN karena sudah mengajar mengaji disini sehingga anak-anak kami jadi lebih bersemangat,” ujar Pak Bibit, salah satu tokoh masyarakat setempat.
Baca juga: Mahasiswa KKN UNDIP Bagikan Pupuk Mikroorganik dari Olah Limbah Rumah Tangga di Dusun Sokowolu
Apa yang dilakukan oleh mahasiswa UNDIP ini membuktikan bahwa kegiatan pengabdian kepada masyarakat bukan hanya tentang pembangunan infrastruktur, melainkan juga pembentukan karakter dan spiritual generasi muda.
Menghidupkan kembali TPQ merupakan suatu langkah kecil namun memiliki makna besar untuk menanamkan nilai-nilai agama dan sosial sejak dini.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Liputan Langsung