INDOZONE.ID - Tim Kuliah Kerja Nyata Tematik (KKN-T) Universitas Diponegoro (Undip) Tim 113 melaksanakan penyuluhan kesehatan mengenai pertolongan pertama pada orang kejang dan kram di Desa Wisata Lerep, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah, pada akhir Juli lalu.
Kegiatan ini merupakan bagian dari program KKN-T bertema “Peningkatan Kemampuan Masyarakat Desa Wisata dalam Pengelolaan Kesehatan dan Keselamatan Masyarakat di Desa Lerep, Kecamatan Ungaran Barat, Kabupaten Semarang.”
Materi penyuluhan dibawakan oleh Muhammad Eliazar Al-Fatih, mahasiswa Program Studi Keperawatan UNDIP, yang juga anggota Tim KKN-T 113.
Dalam penjelasannya, Eliazar menekankan pentingnya keterampilan dasar masyarakat dalam menghadapi situasi darurat.
Baca juga: Rahasia Sukses Ala Maudy Ayunda: Ini 5 Buku yang Wajib Dibaca Mahasiswa!
“Penanganan awal yang benar dapat mengurangi risiko komplikasi dan bahkan menyelamatkan nyawa. Melalui kegiatan ini, kami berharap masyarakat Desa Lerep lebih siap ketika menghadapi kasus kejang maupun kram, baik di rumah maupun di area wisata,” ujarnya.
Penyampaian materi dilakukan melalui metode yang berbeda sesuai dengan sasaran.
Bagi pengelola wisata, Karang Taruna, dan ibu-ibu PKK yang berjumlah sekitar 60 peserta penyuluhan diberikan dalam bentuk ceramah interaktif, pemutaran video edukatif, dan simulasi praktik langsung.
Sementara itu, untuk masyarakat umum sebanyak enam orang, kegiatan dilakukan dengan metode door to door sehingga penyuluhan terasa lebih personal dan sesuai kebutuhan tiap keluarga.
Baca juga: Hadirkan Inovasi Nyata, Mahasiswa KKN Unila Kurangi Asap Sampah dengan Alat Pembakar Minim Asap
Antusiasme warga terlihat tinggi. Dalam sesi tanya jawab, seorang peserta mengaku selama ini tidak tahu cara menangani orang yang mengalami kejang.
“Biasanya kalau ada orang kejang, kami hanya panik dan bingung, tidak tahu harus bagaimana. Sekarang jadi lebih paham apa yang bisa dilakukan dan apa yang harus dihindari
Selain itu, warga lain menuturkan kebiasaan memberikan kompres dingin saat anak mengalami demam tinggi. Ia mengira tindakan tersebut sudah benar karena diturunkan dari kebiasaan lama.
Setelah mendapat penjelasan, barulah ia menyadari bahwa seharusnya digunakan kompres hangat.
“Sejak dulu kalau anak demam tinggi biasanya saya kompres dengan air dingin. Tetapi setelah dijelaskan, ternyata yang benar adalah kompres hangat. Sekarang saya jadi tahu cara yang tepat."
Para pengelola wisata menyambut baik materi yang disampaikan dan berkomitmen untuk menerapkannya dalam kegiatan wisata sehari-hari.
Warga pun berharap program serupa dapat terus dilaksanakan sehingga Desa Wisata Lerep tidak hanya dikenal karena keindahan alamnya, tetapi juga karena kesiapsiagaan masyarakatnya dalam menjaga kesehatan dan keselamatan lingkungan.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Liputan Langsung