Mahasiswa KKN-T IDBU 23 UNDIP Kembangkan Mesin Pencacah Eceng Gondok: Dari Gulma Jadi Pakan Murah untuk Peternak Desa Tedunan
INDOZONE.ID - Peran mahasiswa dalam pemberdayaan masyarakat kembali terlihat nyata melalui kegiatan Kuliah Kerja Nyata Tematik (KKN-T) IDBU 23 Universitas Diponegoro (UNDIP) yang dilaksanakan oleh Kelompok Multidisiplin 3 di Desa Tedunan, Kabupaten Demak. Dengan mengusung tema besar “Penerapan Pemberdayaan Masyarakat untuk Meningkatkan Kesejahteraan Warga Desa Tedunan”, para mahasiswa berupaya menghadirkan inovasi yang langsung menyentuh kebutuhan warga.
Salah satu program unggulan lahir dari ide kreatif Calvin Julio Ardiansyah (Fakultas Teknik, Teknik Industri) yang merancang Alat Pencacah Limbah Sayuran untuk Pakan Ternak. Program ini bukan hanya proyek teknis semata, melainkan bagian dari kolaborasi multidisiplin bersama tiga rekan lainnya yaitu Aulya Ornella Putri (Psikologi), Muhamad Faris Jalandi (Hukum), dan Muhammad Iqbal Dwi P. (Ilmu Pemerintahan). Kolaborasi lintas bidang ini membuat program tidak hanya menghadirkan solusi praktis bagi peternak, tetapi juga menyentuh aspek mentalitas, regulasi, hingga manajemen kerja sama dengan pemerintah desa.
Dari Gulma Menjadi Peluang
Selama bertahun-tahun, eceng gondok menjadi persoalan serius di perairan Desa Tedunan. Pertumbuhannya yang cepat dan tidak terkendali membuat tanaman ini dianggap gulma pengganggu. Eceng gondok menutupi permukaan air, memperlambat aliran sungai, menurunkan kualitas air, hingga mengurangi kadar oksigen yang sangat dibutuhkan biota perairan.
Namun, di balik masalah tersebut, tersimpan potensi besar yang jarang dilirik. Mahasiswa KKN-T UNDIP melihat bahwa eceng gondok bisa diolah menjadi bahan pakan alternatif bagi ternak. Kandungan seratnya dan ketersediaannya yang melimpah menjadikan tanaman ini sumber daya lokal bernilai guna jika dikelola dengan tepat. Momentum ini semakin relevan karena Desa Tedunan baru saja menerima bantuan 500 ekor ayam dari pemerintah desa, sehingga kebutuhan pakan dalam jumlah besar menjadi tantangan utama bagi para peternak.
Inovasi mesin pencacah eceng gondok hadir sebagai jawaban nyata atas persoalan tersebut. Dengan alat ini, tanaman yang semula dianggap limbah bisa diubah menjadi pakan ternak yang hemat, praktis, dan ramah lingkungan. Para peternak tidak hanya terbantu dalam menekan biaya produksi, tetapi juga mendapatkan solusi berkelanjutan dalam mengelola sumber daya lokal. Dari gulma yang merugikan, eceng gondok kini bertransformasi menjadi peluang baru yang membuka jalan bagi peningkatan kesejahteraan masyarakat Desa Tedunan.
Proses Pelaksanaan: Dari Desain hingga Sosialisasi
Rangkaian kegiatan berlangsung kurang lebih sepuluh hari dengan tahapan sistematis. Proses dimulai dari studi literatur mengenai pemanfaatan eceng gondok, dilanjutkan dengan perancangan desain 3D menggunakan perangkat lunak khusus. Setelah desain matang, tim memilih material yang terjangkau namun tetap fungsional, sebelum masuk pada proses manufaktur dan pengujian alat.
Puncak kegiatan digelar pada 9 Agustus 2025 pukul 15.00 WIB melalui sosialisasi bersama kelompok peternak. Suasana acara berlangsung hangat dan interaktif. Para peternak tidak hanya mendengarkan paparan mahasiswa, tetapi juga aktif berdiskusi, bertanya, dan menyampaikan pandangan mereka mengenai keberlanjutan program.
Urutan materi disusun rapi:
- Faris (FH) membuka dengan dasar hukum serta standar nasional beternak ayam.
- Aulya (Fpsi) menyampaikan psikoedukasi tentang growth mindset, efikasi diri, dan regulasi emosi.
- Calvin (FT) memaparkan desain dan cara kerja mesin pencacah eceng gondok.
- Iqbal (FISIP) berperan di balik layar dengan menyusun proposal serta menjembatani kerja sama antara mahasiswa, pemerintah desa, dan vendor.
Hasil Nyata dan Respon Masyarakat
Program menghasilkan desain 3D serta prototipe mesin pencacah eceng gondok. Alat ini dirancang sederhana agar mudah dioperasikan, efisien, dan minim perawatan, sesuai dengan kondisi peternak desa yang masih menggunakan peralatan manual.
Respon masyarakat sangat positif. Para peternak antusias dan menilai pemanfaatan gulma menjadi pakan ternak sebagai terobosan baru. Tidak hanya menekan biaya produksi, tetapi juga memberi nilai tambah pada sumber daya lokal.
Antusiasme semakin terasa ketika sesi diskusi dibuka. Para peternak banyak bertanya tentang cara pengoperasian, ketahanan material, hingga potensi pengembangan mesin dengan kapasitas lebih besar. Beberapa bahkan langsung menyampaikan keinginan mencoba alat tersebut di kandang mereka.
Baca juga: Kompak Bergerak, Mahasiswa KKN-T 118 UNDIP dan Warga RW 06 Ramaikan Senam Sehat Pagi
Kendala dan Cara Mengatasinya
Meski hasil akhir membanggakan, prosesnya tidak mulus. Tim menghadapi kendala teknis dan manajerial, seperti keterbatasan waktu, keterlambatan material, serta padatnya agenda KKN.
Untuk mengatasi hal itu, tim menyusun timeline yang fleksibel namun disiplin. Setiap anggota memiliki peran jelas sehingga tahapan bisa berjalan paralel. Beberapa solusi kreatif juga dilakukan, misalnya menyederhanakan desain agar cepat diproduksi tanpa mengurangi kualitas.
Harapan ke Depan
Calvin menyampaikan harapannya agar program tidak berhenti pada prototipe pertama. Inovasi ini masih bisa dikembangkan, misalnya dengan menambah kapasitas mesin agar lebih efisien. Harapannya, alat ini mampu membantu peternak menekan biaya pakan, memanfaatkan limbah yang tadinya tidak berguna, dan meningkatkan kesejahteraan warga.
Lebih jauh, tim menekankan pentingnya keberlanjutan program. Prototipe ini diharapkan dapat memicu kreativitas warga desa untuk mengembangkan teknologi sederhana berbasis potensi lokal. Dengan pendampingan dari pemerintah desa maupun dinas terkait, Desa Tedunan berpotensi menjadi percontohan pengelolaan gulma air menjadi pakan ternak di Kabupaten Demak.
Selain itu, tim berharap model kolaborasi multidisiplin ini bisa direplikasi di desa lain yang menghadapi masalah serupa. Perpaduan keahlian teknik, psikologi, hukum, dan ilmu pemerintahan terbukti menghasilkan solusi lebih utuh: menyentuh aspek teknis, mentalitas masyarakat, kepastian hukum, hingga dukungan kelembagaan. Dengan pemberdayaan terpadu semacam ini, inovasi kecil bisa tumbuh menjadi gerakan besar yang berkelanjutan, membawa dampak nyata bagi kehidupan masyarakat desa.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Liputan