Kamis, 28 AGUSTUS 2025 • 14:26 WIB

Kisah Roihan, Atlet Berprestasi yang Jadi Kuli Angkut Pasir dan Batu hingga Raih Beasiswa Penuh di Unesa

Author

Roihan, kerja keras untuk mengejar kuliah dengan bekerja sejak SMA (unesa.ac.id)

INDOZONE.ID - Prestasi dan keinginan kuat tak pernah bisa menghentikan takdir seorang pekerja keras. Kisah menyentuh datang dari seorang pemuda bernama Roihan Miftah Hilmiy, mahasiswa baru Universitas Negeri Surabaya (Unesa) yang diterima di program studi Pendidikan Jasmani, Kesehatan, dan Rekreasi (PJKR).

Sejak sekolah, Roihan dikenal sebagai siswa berprestasi yang pekerja keras dan aktif di bidang olahraga. Prestasinya bahkan membawa nama sekolah ke kejuaraan provinsi bela diri Mixed Martial Arts (MMA).

Namun, di balik gemilang prestasinya, sosok Roihan memiliki peran berbeda saat berada di rumah. Sejak ayahnya meninggal dunia ketika ia duduk di bangku kelas 12, Roihan memutuskan untuk membantu sang ibu mencari nafkah.

Baca juga:  Kisah Otto Wahyudi, Pemuda Tunanetra yang Lolos UNY Jalur SNBT dan Dapat Beasiswa KIPK

Bukan karena diminta ibunya, Rida Andirana, melainkan dorongan dari dalam dirinya untuk meringankan beban keluarga.

Sang ibu yang bekerja menjaga warung bakso harus menanggung hidup Roihan dan adiknya seorang diri. Melihat perjuangan sang ibu, Roihan tak segan ikut bekerja.

Pagi hingga siang ia bersekolah, sore membantu di rumah, lalu malam hari menjalani shift kerja di kafe. Belum berhenti di situ, ia juga mengambil pekerjaan sebagai kuli angkut pasir dan batu.

Bagi Rida, anaknya adalah sosok yang baik, pekerja keras, dan berkemauan kuat. Penghasilan yang didapat, Roihan tabung untuk kebutuhan sekolah, jajan, hingga keperluan rumah.

Baca juga: Kisah Inspiratif Rafael David: Prestasi di Akademik, Olahraga, dan Organisasi

"Kalau makan, jajan, dia pakai uang sendiri. Tidak minta dari saya, minta pun itu 5 ribu kalau dia benar-benar tidak punya uang," ucap sang ibu, dikutip dari laman resmi Unesa, Kamis (28/8/2025).

Dedikasi Roihan sebagai atlet sekaligus tulang punggung keluarga terdengar hingga sekolahnya, SMAN 1 Mojosari.

Lailatul Nurul Khasanah, guru BK, yang mendengar perjuangan Roihan pun tergerak membantu. Guru dan alumni kemudian menggalang dana untuk biaya kuliah.

Kunjungan pihak kampus ke kediaman keluarga Roihan (unesa.ac.id)

Seperti doa yang terkabul, kisah Roihan sampai ke pihak Unesa. Melihat latar belakang dan perjuangannya, kampus memberikan keputusan mengharukan, yaitu membebaskan Roihan dari Sumbangan Pengembangan Institusi (SPI) dan Uang Kuliah Tunggal (UKT) selama 8 semester melalui beasiswa penuh.

Baca juga: Kisah Devit Febriansyah: Anak Petani yang Lolos ke ITB, Satu Kampung Patungan untuk Biaya Ongkos

Kabar itu terasa bagai mimpi bagi Roihan. Dia menyatakan, "Saya kaget sekaligus bersyukur. Rasanya seperti mimpi. Saya janji tidak akan menyia-nyiakan kesempatan ini. Saya yakin, ini juga berkat ibu, keluarga, dan para guru yang tidak pernah lelah berdoa untuk saya."

Sementara sang ibu tak henti bersyukur. Ia mengaku, "Saya sudah nggak bisa ngomong apa-apa lagi. Pesan saya untuk Roihan, jaga sholat, belajar yang rajin, jangan pernah berhenti berbuat kebaikan, dan tetap rendah hati."

Perjalanan Roihan memang tak mulus, tetapi ia selalu mencari jalan meski berbatu. Hingga akhirnya, jalan itu sendiri yang datang menjemputnya.

Di akhir, ia menyimpan sebuah mimpi sederhana, yaitu ingin membahagiakan sang ibu.

"Saya hanya ingin melihat ibu bahagia. Karena itu, saya akan perjuangkan masa depan saya lewat kuliah," tegasnya.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Unesa.ac.id

TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU