Kamis, 18 SEPTEMBER 2025 • 16:19 WIB

Mahasiswa UNAIR Kembangkan Inovasi BIOCHICK+, Sabet Juara 3 di Ajang KIMVETAS 2025

Author

Tiga mahasiswa UNAIR meraih Juara 3 KIMVITAS 2025 (unair.ac.id)

INDOZONE.ID - Mahasiswa Universitas Airlangga (UNAIR) meraih Juara 3 pada ajang Kompetisi Ilmiah Mahasiswa Veteriner Nasional (KIMVETAS) 2025. Raihan ini jadi prestasi membanggakan di kancah nasional.

Kompetisi ini diadakan oleh BEM KM x VSC Fakultas Kedokteran Hewan UGM. Raihan ini jadi prestasi membanggakan di kancah nasional.

Tim UNAIR terdiri tiga orang dari berbagai jurusan, Beryl Christoper Fernando Utomo dari Farmasi 2024, Gadis Jacinda Elysia Tabina dari Farmasi 2024, dan Kharisma Putri Utami Kedokteran Hewan 2024.

Inovasi yang mereka kembangkan ide BIOCHICK+, inovasi Ransum Presisi dari Fermentasi Ampas Tahu dan Kulit Nanas. Keduanya sebagai sinbiotik lokal untuk optimalisasi Gut Microbiome Ayam Brolier.

Baca juga: Aiden Wilkins, Bocah Prodigy 9 Tahun yang Belajar Ilmu Syaraf di Ursinus College

Berbasis One Health Framework

Mereka menyoroti isu penting mengenai tingginya biaya pakan ayam broiler, mencapai 70 persen cost industri peternakan, lalu penggunaan Antibiotic Growth Promoter (AGP) berlebihan, serta menyebabkan resistensi antibiotik (AMR).

Selain itu juga adanya gangguan kesehatan pencernaan akibat ketidakseimbangan mikriobiota usus.

“Kami melihat ampas tahu dan kulit nanas sering terbuang padahal berpotensi besar sebagai sumber prebiotik dan enzim alami, seperti enzim bromelain pada kulit nanas. Melalui fermentasi, limbah ini bisa menjadi ransum presisi kaya sinbiotik,” jelas Beryl.

Ia juga menegaskan kalau gagasan ini sejalan dengan One Health Framework WHO. Mereka menawarkan solusi  ramah lingkungan, mendukung ekonomi sirkular, serta menekan ketergantungan terhadap antibiotik.

Baca juga: Dear Mahasiswa, Ini Dia Tips Simpel Biar Hidupmu Tetap Flowing meski Pikiran Lagi Rusuh!

Proses dan Tantangan

Proses karya ilmiah dibuat kurang lebih dua bulan, mulai dari pengumpulan abstrak hingga presentasi final.

“Prosesnya tidak mudah, terutama dalam membagi waktu antara persiapan lomba, tugas kuliah, dan praktikum. Tapi justru dari situ kami belajar manajemen waktu dan kerja tim,” ungkap Gadis.

Walaupun pembuatannya dalam waktu singkat, semangat dan kolaborasi lintas disiplin jadi pondasi utama bagi tim. Salah satu anggota tim, Kharisme mengungkapkan, kombinasi farmasi dan kedokteran hewan bisa buat ide semakin relevan dan aplikatif.

Kesuksesan ini disambut baik oleh pihak kampus, termasuk dosen pembimbing Prof. Eduardus Bimo Aksono Herupradoto. 

“Ini adalah awal yang baik bagi kami sebagai mahasiswa semester tiga. Kemenangan pertama ini memotivasi kami untuk terus berkarya dan membawa nama baik almamater,” tutur Kharisma.

Baca juga: 5 Pilar Literasi Keuangan Mahasiswa Gen Z: Dari Paylater sampai Dana Darurat

Bukan Akhir Perjalanan

Kemenangan yang mereka raih bukanlah tujuan akhir, tapi justru awal perjalanan akademik dan riset.

“Jangan takut mencoba. Mulailah dari ide sederhana, lalu gali potensinya. Kompetisi bukan sekadar soal menang atau kalah, tapi bagaimana kita berani melangkah keluar dari zona nyaman,” pesan Gadis.

Ke depannya, tim akan mengembangkan ide mereka agar lebih aplikatif. Selain itu, mereka juga berharap bisa mempublikasikan di jurnal ilmiah mahasiswa.

“Kami ingin karya ini tidak berhenti di lomba saja, tapi benar-benar berdampak bagi peternakan berkelanjutan,” pungkas Beryl.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Unair.ac.id

TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU