Jumat, 19 SEPTEMBER 2025 • 16:30 WIB

AI Ciptaan Oxford jadi Inovasi Pintar Bantu Astronom Temukan Supernova di Langit Penuh Noise

Author

Ilustrasi SuperNova (freepik.com)

INDOZONE.ID - Pernah kebayang gak sih, betapa sulitnya nemuin ledakan bintang (supernova) di antara jutaan titik cahaya dan kebisingan data dari teleskop?

Inilah yang kadang dihadapi astronom setiap malamnya, sampai akhirnya tim riset dari Universitas Oxford yang peneliti utamanya adalah Peneliti utama Dr. Héloïse Stevance (Departemen Fisika, Universitas Oxford) mengenalkan alat Artificial Intelligence (AI) baru bernama Virtual Research Assistant (VRA). 

AI ini secara signifikan mengurangi beban kerja manusia sambil tetap menjaga akurasi ilmu astronomi.

Baca juga: Mahasiswa UNAIR Kembangkan Inovasi BIOCHICK+, Sabet Juara 3 di Ajang KIMVETAS 2025

Inovasi yang Bikin Pencarian Supernova Jadi Lebih Ringan

Alat ini dikembangkan supaya astronom gak harus menyisir ribuan sinyal tiap malam secara manual.

Dengan menggunakan data dari Asteroid Terrestrial Impact Last Alert System (ATLAS) sistem yang dipakai buat memantau langit dan mendeteksi objek terang (termasuk potensi supernova) VRA mampu menyaring sinyal yang signifikan dari noise yang dominan.

Sebelum ada VRA, meski sudah dilakukan filter otomatis dan analisis gambar, para peneliti tetap harus manual memeriksa 200-400 kandidat per hari. Padahal hanya sedikit di antara kandidat itu yang betul-betul supernova atau transien ekstragalaksi.

Dr. Heloise Stevance dan Profesor Stephen Smartt bersama Sistem Peringatan Dampak Terestrial Asteroid (ATLAS) di Laboratorium Data Astrofisika, Universitas Oxford. (ox.ac.uk)

Jadi dengan adanya VRA, jumlah kandidat yang harus diperiksa manusia berkurang sekitar 85%, sementara alat ini tetap mempertahankan rasio temuan asli dengan kehilangan sinyal asli yang sangat kecil, kurang dari 0,08% sinyal nyata yang terlewat.

Cara Kerja VRA Ringan tapi Cerdas

Uniknya, VRA gak memakai model AI yang super kompleks dan memakan sumber daya berat seperti deep learning berukuran besar.

Alih-alih itu, tim menggunakan algoritma pohon keputusan (decision trees) yang lebih ringan dan memungkinkan pakar astronom menyisipkan intuisi ilmiah mereka langsung ke dalam model.

Hanya data pelatihan sebanyak 15.000 contoh, bahkan cukup dijalankan di laptop biasa, VRA berhasil melakukan pekerjaan berat yang dulu memakan jam kerja manusia.

Alat ini juga terus memperbarui skornya terhadap tiap sinyal, saat langit yang sama diamati kembali di malam-malam berikutnya.

Oleh karena itu dengan cara inilah, sinyal yang muncul berulang dan menunjukkan karakteristik menarik akan mendapat prioritas untuk diperiksa dulu oleh manusia.

Seiring dengan rencana survei langit besar seperti LSST (Legacy Survey of Space and Time) yang mulai beroperasi 2026. 

Baca juga: Guru Besar ITS Ciptakan Inovasi Teknologi Prediksi Gelombang Laut, Cuma Butuh Angin

Diprediksi bakal menghasilkan puluhan juta alert per malam, alat seperti VRA bakal sangat krusial supaya penelitian tetap bisa dijalankan dengan efisien.

Nah, gimana nih pendapat kalian soal inovasi dari Oxford?

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Ox.ac.uk

TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU