Minggu, 23 NOVEMBER 2025 • 13:30 WIB

Sanggar GSA Curi Perhatian di Acara UNESCO–UB, Bawakan Wayang Sutasoma 3 Dimensi Pakai Dialek Malangan

Author

Wayang GSA 3 Dimensi (Aighiska Cleorentina/Z Creators)

INDOZONE.ID - Sanggar Seni Gumelaring Sasangka Aji (GSA) kembali menunjukkan bahwa seni tradisi tidak pernah kehilangan ruang di tangan generasi muda. Kali ini, Sanggar GSA hadir sebagai bintang utama dalam pagelaran Wayang Sutasoma 3 Dimensi pada peresmian Work Station UNESCO di Universitas Brawijaya (UB), Jumat, 21 November 2025.

Dalam acara kolaborasi Universitas Brawijaya dan UNESCO yang dihadiri tamu nasional hingga internasional tersebut, para dalang dan pengrawit muda dari Sanggar GSA menjadi sorotan berkat kemampuan mereka menghidupkan lakon klasik dengan gaya yang lebih kekinian dan dekat dengan penonton masa kini.

Baca juga: Mahasiswa ITB Raih Juara Dunia di UNESCO Youth Hackathon 2025 Lewat Proyek MIL Point

Pagelaran ini menampilkan lakon Sutasoma, kisah yang diambil dari kakawin klasik dan memuat pesan “Bhinneka Tunggal Ika”. Berbeda dari pementasan wayang pada umumnya, dialog yang dibawakan para dalang muda menggunakan bahasa Jawa yang pada bagian tertentu dicampur dengan dialek Malangan, sehingga terasa lebih membumi dan mudah dipahami oleh penonton dari berbagai kalangan.

Anggota Sanggar GSA (Aighiska Cleorentina/Z Creators)

Pagelaran ini melibatkan seluruh elemen Sanggar GSA, mulai dari dalang, sinden, hingga para pengrawit muda yang memainkan gamelan. Meski usia mereka masih sangat muda (7–19 tahun), kekompakan dan ketekunan terlihat dari cara mereka menjaga tempo musik dan menyelaraskan adegan dengan baik.

Baca juga: Bermain, Belajar, Menginspirasi: Ide Ular Tangga yang Bawa Mahasiswi UI ke Konferensi UNESCO

Selain menampilkan aspek seni, kehadiran Sanggar GSA dalam pagelaran ini juga menjadi bukti bahwa regenerasi budaya dapat berjalan dengan baik ketika ruang dan kesempatan diberikan kepada anak-anak.

Pagelaran ini sekaligus menunjukkan cara baru memperkenalkan tradisi kepada publik. Dengan membawa campuran dialek Malangan serta energi Gen Alpha dan Gen Z, Sanggar Seni Gumelaring Sasangka Aji membuktikan bahwa wayang tetap relevan selama ada generasi muda yang berani merawatnya.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Liputan

TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU