Mahasiswa UNAIR Hidupkan Kampung Peneleh Melalui Edukasi Kreatif dan Pengelolaan Limbah Jelantah
INDOZONE.ID – Himpunan Mahasiswa Bahasa dan Sastra Indonesia (Basasindo) Fakultas Ilmu Budaya (FIB) UNAIR melakukan kontribusi nyata melalui program kerja ABIPRAYA di Kampung Peneleh.
Program bertema SPARK (Sehat, Produktif, Aktif, Ramah Lingkungan, Kreatif) ini diselenggarakan setiap akhir pekan, yaitu dari Jumat hingga Minggu, sejak Oktober hingga November.
Baca juga: 4 Fakultas Kedokteran di Indonesia yang Cocok Jadi Latar Drama Korea, Mana Aja Nih?
Menurut Vera Audicha Putri, Ketua Divisi Pengabdian Masyarakat (Pengmas), Kampung Peneleh dipilih karena memiliki potensi budaya yang kuat.
“Selain terkenal sebagai kampung bersejarah, Peneleh juga memiliki masyarakat yang aktif dan terbuka terhadap kegiatan edukatif. Sehingga dinilai cocok sebagai lokasi penguatan literasi, kreativitas, dan pemberdayaan masyarakat,” jelasnya.
Kegiatan ABIPRAYA berfokus pada empat aspek utama: pendidikan, ekonomi kreatif, lingkungan, dan kesehatan.
Dalam pelaksanaannya, mahasiswa memberikan pengajaran literasi dan kreativitas kepada anak-anak.
Baca juga: 9 UKM Paling Unik di Indonesia: Dari Fashion Show, Pengabdian Masyarakat, hingga Astronomi
Mereka juga mengadakan kerja bakti, menanam tanaman obat keluarga, melaksanakan senam bersama, hingga memberikan edukasi tentang pengolahan limbah minyak jelantah.
Selain kegiatan edukasi rutin, mahasiswa Basasindo juga turut membantu aktivitas warga setempat, misalnya saat ada kunjungan turis.
“Seperti kemarin ada kunjungan turis kami membantu warga disitu, dan warga menyambut baik kehadiran tim Basasindo. Khususnya para orang tua yang merasa terbantu dengan adanya kegiatan edukatif untuk anak-anak mereka,” tuturnya.
Kegiatan ini memberikan dampak nyata; anak-anak mulai menunjukkan kebiasaan baik, masyarakat menjadi lebih terbuka dengan program edukasi dari luar, dan suasana lingkungan menjadi lebih hidup.
Pelaksanaan program ini menghadapi sejumlah tantangan, termasuk kesibukan warga yang beragam dan perlunya penyesuaian karakter anak-anak.
Tantangan lainnya adalah sebagian warga masih ragu terhadap program, serta kegiatan yang harus disesuaikan dengan agenda kampung seperti tadarusan dan kondisi kepedulian pendidikan anak yang belum merata.
Vera berharap program ABIPRAYA dapat terus memberikan manfaat, khususnya agar anak-anak semakin menyadari pentingnya literasi dan pendidikan untuk masa depan.
Program pengabdian ini semakin memperkuat peran mahasiswa UNAIR sebagai agen perubahan dan mempererat hubungan baik antara kampus dan masyarakat, serta dapat dilanjutkan ke depannya.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Unair.ac.id