INDOZONE.ID -Tim peneliti dari Fakultas Peternakan Universitas Gadjah Mada (UGM) ambil bagian dalam mendukung produktivitas ternak di Indonesia. Tim peneliti ini memperkenalkan produk pakan hijauan.
Pakan hijauan hasil tim peneliti UGM ini hadir dengan nutrisi tinggi, tapi harganya tetap terjangkau. Kamu harus tahu, inovasi tersebut lahir di Laboratorium Hijauan Makanan Ternak dan Pastura (HMTP).
Sebanyak tiga produk pakan hijauan, yaitu Alfalfa Tropik (Medicago sativa), Rumput Gajah (Penisetum purpureum), dan Cikory (Cichorium intybus), dihasilkan oleh tim peneliti UGM ini.
Salah satu anggota dari tim, Prof. Nafiatul Umami, menyatakan produk yang dikembangkan tersebut lebih banyak menghasilkan pakan ruminansia. Di sisi lain, tim peneliti juga mulai melakukan riset untuk pengembangan pakan unggas.
Baca juga: Lowongan Dosen PKN STAN 2026 Resmi Dibuka, Begini Cara Daftarnya
“Alfalfa Tropik dan Cikory tidak hanya bisa digunakan untuk ruminansia, namun juga bisa untuk ternak unggas,” jelas Nafiatul.
Sistem Peternakan di Indonesia Kurang Optimal
Sementara itu, Prof. Dr. Ir. Bambang Suhartanto menilai sistem peternakan di Indonesia kurang optimal. Pasalnya, di sini, sistem peternakannya masih menggunakan pakan buatan.
Padahal, ada sisi negatif dari ketergantungan terhadap pakan buatan, seperti menguras biaya produksi hingga mengurangi keberlanjutan peternakan dalam jangka panjang.
Lalu, Prof. Dr. Ir. Bambang Suhartanto juga menyinggung belum adanya aturan khusus dalam menjalankan dedicate land di Indonesia, seperti yang telah diterapkan Australia.
Dedicate land merupakan proses sukarela ketika pemilik lahan menyerahkan sebagian tanahnya kepada pemerintah atau warga, untuk kepentingan umum meliputi jalan, taman, atau ruang terbuka hijau.
Umumnya, pengaplikasian proses ini untuk keperluan pengembangan kawasan dan pemenuhan aturan tata ruang.
Baca juga: Mahasiswa ULM Ajak Warga Terapkan Pertanian Organik yang Cocok dengan Wilayah Perkotaan
Namun, Indonesia sejatinya telah memiliki beberapa jenis lahan untuk digunakan sebagi lahan pengembalaan dengan menggunakan sistem integrasi.
"Integrasi sapi sawit, peluang lahannya lebih dari 15 juta ha dan jenis perkebunan lainnya dengan jenis ternak yang tepat, bahkan integrasi dengan ternak lebah. Laboratorium HMTP selain memiliki ahli integrasi ternak besar dengan perkebunan, juga memiliki ahli ternak lebah,” tutupnya.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Ugm.ac.id