INDOZONE.ID - Sebagai bagian dari dukungan terhadap visi pembangunan Ibu Kota Negara (IKN) sebagai green city, pengelolaan sampah menjadi hal krusial yang harus diterapkan, termasuk di wilayah penyangga IKN. Peningkatan jumlah pendatang akibat pembangunan IKN berdampak pada melonjaknya timbulan sampah di kawasan penyangga. Untuk mengatasi hal ini, dibutuhkan strategi pengelolaan sampah agar sampah akhir dapat berkurang secara signifikan.
Menanggapi isu tersebut, tim Bala Gadjah Mada dari Kelompok Pecinta Alam dan Lingkungan Hidup (KPALH) Setrajana Fisipol UGM menyelenggarakan sosialisasi dan pelatihan pengelolaan sampah bagi masyarakat di Kelurahan Pemaluan pada 6 Februari 2026. Sebagai salah satu wilayah penyangga IKN, Kelurahan Pemaluan tidak lepas dari isu pengelolaan limbah domestik. Oleh karena itu, diperlukan upaya menanamkan kesadaran masyarakat terkait pentingnya pengelolaan sampah sejak dini.
Kegiatan yang digelar di Rumah Singgah Pemaluan ini menitikberatkan pada edukasi pemilahan sampah dan pengenalan prinsip 3R (Reduce, Reuse, Recycle). Salah satu inovasi utama yang diperkenalkan adalah Losida (Lodong Sisa Dapur), metode pengolahan sampah organik sederhana namun efektif yang dapat dipasang langsung di tingkat rumah tangga. Dengan Losida, limbah dapur yang sebelumnya dibuang atau dibakar bisa diolah mandiri menjadi POC untuk tanaman.
Selain itu, program Bank Sampah juga diperkenalkan sebagai upaya mentransformasi limbah menjadi aset bernilai ekonomi. Di Kelurahan Pemaluan, inisiatif serupa sebenarnya sudah ada sejak 2022. Menurut Direktur Bank Sampah Pemaluan, unit ini sempat berjalan aktif dengan antusiasme tinggi dari masyarakat dalam menyetorkan sampah ke titik pengumpulan. Namun, operasionalnya hanya bertahan beberapa bulan karena rendahnya kesadaran kolektif warga, sehingga partisipasi tidak terjaga jangka panjang.
Untuk mengatasi tantangan tersebut, tim Bala Gadjah Mada memaparkan studi komparasi dengan Bank Sampah Griya Sapu Lidi di Yogyakarta, salah satu unit pengelolaan sampah berprestasi. Sistem operasional dan standarisasi teknis yang terbukti berhasil di Griya Sapu Lidi dijadikan referensi praktis bagi warga Pemaluan. Melalui pertukaran pengetahuan ini, diharapkan masyarakat dapat mengadopsi strategi baru untuk menghidupkan kembali serta mengoptimalkan kinerja bank sampah setempat.
Baca juga: Mahasiswa Fisipol UGM Gelar Ekspedisi 14 Hari di IKN, Soroti Krisis Sampah dan Air Bersih
Melalui proyek sosial ini, tim Bala Gadjah Mada berharap warga Pemaluan tidak hanya menjadi penonton di tengah masifnya pembangunan IKN, tetapi mampu menjadi subjek yang mandiri dalam menjaga ketahanan lingkungan. Sebagai bentuk komitmen nyata, kegiatan ditutup dengan penyerahan sepuluh tong sampah terklasifikasi berdasarkan kategori organik, anorganik, dan Bahan Berbahaya dan Beracun (B3). Fasilitas ini bertujuan memisahkan sampah sesuai kategorinya agar pengolahan limbah melalui prinsip 3R dapat berjalan lebih optimal dan aman.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Reportase