Jumat, 24 APRIL 2026 • 13:09 WIB

CIMSA FK USK Gelar Pelatihan Bahasa Isyarat : Tingkatkan Akses Kesehatan bagi Pasien Tunarungu

Author

FK USK gelar pelatihan bahasa isyarat (usk.ac.id)

INDOZONE.ID - Mahasiswa kedokteran Universitas Syiah Kuala (USK) yang tergabung dalam Center for Indonesian Medical Students’ Activities (CIMSA), melakukan langkah nyata dalam menghapus hambatan komunikasi di dunia kesehatan.

Melalui program Language of Visual Expression (LOVE), mereka berfokus pada pelatihan bahasa isyarat dan pemberian edukasi kesehatan bagi siswa penyandang disabilitas di SLB Negeri Banda Aceh.

Langkah tersebut diambil sebagai bentuk respons terhadap kondisi global dan nasional saat ini. Berdasarkan data tahun 2023, sekitar 16% penduduk dunia merupakan penyandang disabilitas.

Di Indonesia, jumlahnya mencapai 22,97 juta orang, yang semuanya memerlukan pendekatan khusus agar bisa mendapatkan akses layanan kesehatan yang setara dan efektif.  

Baca juga: Mahasiswa UMS Raih Gold Medal MTE 2026 Lewat Inovasi AI "PERMATA", Dukung Pemulihan Kesehatan Mental

Rangkaian Pelatihan dan Praktik Lapangan 

Program LOVE tidak hanya dilakukan dalam satu hari, melainkan melalui beberapa tahapan yang telah terencana.

Pada 21 Februari dan 7 Maret 2026, sebanyak 20 mahasiswa kedokteran mengikuti fase pembekalan mengenai prinsip-prinsip komunikasi inklusif.

Mereka diajarkan mengenai tanggung jawab moral tenaga medis dalam melayani pasien disabilitas tanpa membeda-bedakan.

Selain teori, para mahasiswa juga mendapatkan pelatihan teknis mengenai bahasa isyarat dasar. Hal yang menarik, materi Pertolongan Pertama pada Kecelakaan (P3K) pun dimodifikasi sedemikian rupa agar bisa dipahami dengan mudah oleh pasien tunarungu.

Pada fase implementasi yang berlangsung 18 April 2026, mahasiswa langsung terjun ke SLB Negeri Banda Aceh untuk memberikan edukasi kepada 11 siswa.

Mereka mengajarkan cara menangani masalah kesehatan harian seperti mimisan, tersedak, luka ringan, hingga sesak napas dengan menggunakan bahasa isyarat.

Koordinator kegiatan menekankan bahwa program yang diselenggarakan bertujuan menciptakan pelayanan kesehatan yang lebih manusiawi dan tidak memihak.

“Kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan kapasitas mahasiswa kedokteran dalam berkomunikasi dengan penyandang disabilitas, khususnya tunarungu, sehingga pelayanan kesehatan dapat diberikan secara lebih inklusif dan humanis,” terangnya.  

Baca juga: Tingkatkan Keselamatan Kerja, UNS dan UKM Edukasi Pekerja Migran Perempuan Indonesia di Malaysia

Pentingnya Komunikasi dalam Keadaan Darurat 

Dr. dr. Nasyaruddin Herry Taufik, Sp.KFR, seorang pakar medis, menyatakan bahwa kompetensi komunikasi adalah kunci utama agar tidak terjadi kesenjangan dalam pelayanan kesehatan.

“Pelayanan kesehatan harus dapat diakses oleh semua individu tanpa terkecuali. Tenaga kesehatan perlu memiliki kompetensi komunikasi yang memadai agar tidak terjadi kesenjangan dalam pelayanan,” ujarnya. 

Dukungan juga datang dari pihak sekolah. Fitriyanti, S.Pd., Gr., guru SLB Negeri Banda Aceh, menjelaskan bahwa penguasaan bahasa isyarat oleh tenaga medis sangat penting, terutama dalam situasi darurat yang membutuhkan respons cepat.

Dengan kemampuan tersebut, interaksi antara dokter dan pasien tunarungu akan menjadi jauh lebih efektif.

CIMSA FK USK berkomitmen bahwa program ini tidak akan berhenti di sini. Mereka telah menjadwalkan sesi evaluasi dan pemantauan pada bulan Juni dan September 2026.

Tujuannya untuk melihat sejauh mana dampak program tersebut bagi peningkatan kapasitas para relawan mahasiswa.

Melalui inisiatif yang dilakukan, diharapkan tidak ada lagi kelompok masyarakat yang merasa terpinggirkan dalam mendapatkan hak kesehatan mereka.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Usk.ac.id

TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU