Sempat Gagal 10 Kali, Mahasiswa UIN Jakarta Ini Akhirnya Juara 1 Kompetisi Bahasa Inggris Nasional UNESHCO 2026
INDOZONE.ID - Ahmad Jannata, mahasiswa Program Studi Perbandingan Mazhab Fakultas Syariah dan Hukum UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, berhasil meraih juara pertama dalam ajang UNY English Competition (UNESHCO) ke-11 yang berlangsung di Universitas Negeri Yogyakarta (UNY), 30 Mei 2026 lalu.
Ia suskes keluar sebagai pemenang setelah bersaing dengan enam finalis lain dari berbagai daerah di Indonesia.
Kompetisi yang diselenggarakan oleh UKM Bahasa Asing SAFEL (Student Activity Forum of Foreign Languages) tersebut diikuti peserta dari kalangan pelajar, mahasiswa, hingga masyarakat umum.
Pada babak final, para peserta ditantang mengikuti sesi impromptu speech setelah sebelumnya lolos dari tahap seleksi semifinal yang mempertemukan 10 peserta terbaik.
Baca juga: Walk for Autism 2026 Jadi Ajang Edukasi dan Dukungan untuk Penyandang Autisme
Dalam penampilannya, Nata mengangkat tema "AI and Humanity: Redefining Intelligence in the Digital Age" yang membahas hubungan antara perkembangan kecerdasan buatan (AI) dan peran manusia di era digital.
Melalui penyampaian yang argumentatif dan penguasaan materi yang baik, ia berhasil memperoleh penilaian tertinggi dari dewan juri.
Ia mengaku tidak menyangka bisa meraih gelar juara ini, mengingat banyak peserta berasal dari perguruan tinggi ternama dan memiliki kemampuan bahasa Inggris yang kuat.
"Jujur saya sangat tidak menduga. Karena saya melihat banyak lawan-lawan tangguh yang berasal dari universitas ternama. Tapi berkat dukungan dari teman-teman dan keluarga, saya bisa mendapatkan juara satu di perlombaan speech nasional UNESHCO ke-11," tuturnya.
Baca juga: Rasakan Jadi Mahasiswa Sehari, Pelajar Ikuti Trial Class DCB Telkom University
Menurutnya, tantangan terbesar dalam perlombaan tersebut terletak pada format impromptu speech yang hanya memberikan waktu persiapan selama 30 menit.
Berbeda dengan kompetisi pidato pada umumnya, format tersebut menuntut kemampuan berpikir cepat, logis, dan kritis dalam waktu singkat para pesertanya.
Di balik keberhasilannya, Nata mengungkapkan bahwa proses menuju kemenangan tidak selalu berjalan mulus.
Ia mengaku sempat mengalami berbagai kegagalan dalam sejumlah kompetisi sebelumnya, sebelum akhirnya berhasil meraih prestasi di tingkat nasional pada ajang perlombaan ini.
"Tidak ada yang namanya kegagalan, yang ada hanyalah kemenangan yang tertunda. Setiap proses yang kita lalui adalah bagian dari perjalanan menuju keberhasilan. Saya gagal 10 kali dalam lomba terakhir, tetapi saya memilih untuk bangkit dan terus belajar setiap kali menghadapi kegagalan. Karena itulah saya dapat berdiri di panggung ini sebagai juara," jelasnya.
Melalui capaian ini, ia berharap dapat memotivasi mahasiswa lain untuk terus mengembangkan potensi diri dan tidak mudah menyerah dalam mengejar cita-cita maupun prestasi..
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Biroaakk.uinjkt.ac.id