INDOZONE.ID - Menjadi Student Leaders bukan sekadar memegang jabatan di organisasi kampus.
Di Universitas Pelita Harapan (UPH), peran ini dipahami sebagai proses membangun karakter, integritas, dan kemampuan melayani.
Komitmen itu kembali ditegaskan dalam Student Leaders Appreciation and Inauguration 2026 yang digelar di Grand Chapel, Kampus Utama UPH Lippo Village, pada 10 Juli 2026.
Dalam acara tersebut, UPH memberikan apresiasi kepada 568 pengurus organisasi mahasiswa periode 2025/2026 sekaligus melantik 837 student leaders baru untuk masa bakti 2026/2027.
Angka tersebut menunjukkan bahwa organisasi kemahasiswaan masih menjadi ruang belajar yang diminati mahasiswa. Bukan hanya untuk mengasah kemampuan memimpin, tetapi juga membangun jejaring dan pengalaman di luar ruang kelas.
Baca juga: Top 3 Rekomendasi Buku untuk Mahasiswa Upgrade Diri, Good Books, Good Reads!
Sebanyak 837 pengurus baru berasal dari 65 organisasi mahasiswa. Rinciannya, 32 organisasi berada di bawah binaan Departemen Student Development & Alumni Engagement (SDAE) dan Departemen Sports, sementara 33 lainnya merupakan Himpunan Mahasiswa Fakultas (HMF) serta Himpunan Mahasiswa Program Studi (HMPS).
Student Leaders adalah mahasiswa yang dipercaya memimpin organisasi kemahasiswaan dan menjadi penggerak berbagai program akademik maupun nonakademik di lingkungan kampus. Rektor UPH, Dr. (Hon.) Jonathan L. Parapak, mengapresiasi kontribusi para pengurus periode sebelumnya.
"UPH bersyukur dan berterima kasih atas seluruh kontribusi kalian. Kiranya pengalaman selama menjadi pemimpin mahasiswa di Universitas Pelita Harapan menjadi dasar untuk terus memimpin di mana pun kalian berada dan menjadi berkat bagi banyak orang," ujarnya.
Kepada pengurus baru, ia mengingatkan bahwa kepemimpinan merupakan panggilan untuk menjadi teladan.
Baca juga: Orange Talk 2026 Jadi Wadah Mahasiswa Esa Unggul Kupas Kompetensi Komunikasi di Era Digital
"Kami berharap saudara-saudara akan menjadi teladan mahasiswa di Universitas Pelita Harapan, memimpin dengan semangat membawa nilai-nilai Yesus Kristus. Kalian dapat menyadari bahwa kepemimpinan bukan karena dipilih, melainkan panggilan Tuhan untuk melakukan yang terbaik bagi kehidupan mahasiswa di UPH," pesannya.
Kepemimpinan Bukan Soal Jabatan
Ketua BEM UPH 2026/2027, Catherine Setiawati Anderson, menilai kepemimpinan sebagai bentuk pelayanan.
"Bagi saya, kepemimpinan bukan tentang memiliki jabatan tertinggi, tetapi tentang hati yang bersedia melayani. Akan ada banyak pengorbanan, tetapi dari situlah seorang pemimpin menunjukkan bahwa ia sungguh ingin melihat orang lain berkembang mencapai potensi terbaiknya," ujarnya.
BEM UPH tahun ini akan memfokuskan program pada pengembangan mahasiswa dan kaderisasi agar lebih banyak mahasiswa mendapat kesempatan mengembangkan kapasitas diri.
Di sisi lain, Head of Mentoring UPH 2026/2027, Varissa Jaqlyn Sauw, ingin memperkuat kualitas mentor bagi mahasiswa baru.
"Fokus kami tahun ini adalah memperkuat pengembangan para mentor melalui berbagai pelatihan agar mahasiswa baru dapat merasakan dampak positif dari proses pendampingan di UPH," ungkapnya.
George Wesley yang memimpin Spiritual Growth (SG) UPH juga menyoroti pentingnya kepemimpinan yang melayani.
"Saya percaya Tuhan bekerja melalui setiap pengalaman, baik di organisasi maupun dalam kehidupan kampus. Karena itu, kepemimpinan bukan hanya tentang memimpin, tetapi juga tentang melayani dan membantu orang lain bertumbuh bersama. Kami ingin SG dapat menjadi terang di tengah kampus, mencerminkan kasih Tuhan kepada seluruh mahasiswa tanpa memandang latar belakang mereka," ungkap George.
Organisasi Kampus dan Prestasi Bisa Berjalan Bersama
Masih ada anggapan aktif organisasi bisa mengganggu nilai kuliah. Pengalaman sejumlah mahasiswa UPH justru menunjukkan sebaliknya.
Regita Putri Maharani, Ketua Majelis Perwakilan Mahasiswa (MPM) periode 2025/2026, mengaku tanggung jawab sebagai student leader membuatnya lebih disiplin mengatur waktu.
"Sebagai penerima beasiswa, saya wajib menjaga IPK di atas 3,5. Ketika dipercaya menjadi student leader, tanggung jawab saya tentu bertambah. Namun, kesibukan ini justru membuat saya lebih mawas diri, mengikis rasa malas, dan belajar menentukan prioritas dengan bijak," ungkap Regita.
Cerita serupa datang dari Nikita Novena yang memimpin Service Learning Community (SLC).
Ia menyebut pengalaman organisasi membuka jalan mengikuti Program Penguatan Kapasitas Organisasi Kemahasiswaan (PPK Ormawa) hingga meraih Juara 4 Video Paling Informatif pada ajang Abdidaya Ormawa.
Belajar Memimpin di Tengah Perubahan
Dalam sesi Inspirational Sharing, Komandan Sekolah Staf dan Komando Angkatan Darat (Danseskoad), Mayjen TNI Dr. Agustinus Purboyo, mengingatkan bahwa pemimpin harus mampu beradaptasi menghadapi perubahan.
"Saat berada di depan, seorang pemimpin harus mampu memberi teladan. Ketika berada di tengah, ia harus membangun semangat tim dalam menghadapi setiap tantangan. Lalu ketika berada di belakang, ia harus mendorong setiap anggotanya agar mampu mencapai tujuan yang telah ditetapkan bersama. Tiga hal inilah yang menurut saya menjadi fondasi kepemimpinan," pesannya.
UPH melantik 837 Student Leaders periode 2026/2027. Kepemimpinan mahasiswa diarahkan pada karakter, pelayanan, dan dampak nyata.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Siaran Pers