Kategori Berita
KANAL
REGIONAL
Jumat, 03 OKTOBER 2025 • 13:22 WIB

Bocah Prodigy Belgia yang Menjadi Doktor di Usia Dini

Bocah Prodigy Belgia yang Menjadi Doktor di Usia DiniLaurent Simons (mpq.mpg.de)

INDOZONE.ID - Kisah Laurent Simons yang berusia 12 tahun si bocah prodigy, memperoleh gelar master dalam fisika kuantum. Pada usia yang jauh lebih muda dari rata-rata mahasiswa doktoral, ia telah diterima dan akan memulai program doktor di Institut Max Planck Jerman.

Prestasi ini mengundang decak kagum dari banyak kalangan, karena ini merupaka hal yang gak biasa dimana, ada anak kecil yang diterima ke jenjang paling tinggi dalam pendidikan formal.

Baca juga: Aiden Wilkins, Bocah Prodigy 9 Tahun yang Belajar Ilmu Syaraf di Ursinus College

Orang-orang menyebutnya “child prodigy”, seseorang dengan bakat luar biasa di usia muda. Ia bukan hanya pintar atau cepat tangkap materi, tapi juga punya motivasi belajar yang luar biasa dan kemampuan menyerap konsep kompleks jauh di atas rata-rata anak seusianya.

Perjalanan Menuju Doktor

Awalnya, Laurent menunjukkan prestasi akademik yang sangat menonjol sejak usia dini. Materi-materi yang biasanya sulit bagi sebagian besar orang dewasa sudah dapat ia pahami dengan cepat.

Karena itu, banyak pihak melihat kalau ia bukan sekadar anak pintar biasa, melainkan calon pemikir besar masa depan.

Setelah melalui seleksi ketat dan penilaian kualitas akademik yang tinggi, ia akhirnya diterima di institut di Jerman untuk program doktoral.

Bukan program doktoral “anak-anak”, tapi program reguler yang biasanya diikuti oleh peneliti muda dan profesional. Ini menunjukkan bagaimana kepercayaan institusi terhadap kematangannya secara intelektual.

Institut Jerman yang menerimanya dikenal memiliki reputasi tinggi dalam riset dan pendidikan. Para profesor dan peneliti sudah menyiapkan program pembimbingan khusus agar ia dapat menyesuaikan diri dengan lingkungan penelitian tinggi dan tuntutan akademik yang berat.

Tantangan dan Dinamika Kehidupan Akademik

Menjadi mahasiswa doktoral di usia sangat muda tentu saja gak mudah. Tantangan yang dihadapi tak cuma soal akademik, tetapi juga psikologis dan sosial. Misalnya, perbedaan usia dimana Ia jadi mahasiswa yang usianya jauh berbeda dari rekan dan pembimbing.

Hal ini bisa memicu tantangan adaptasi relasi dan interaksi sosial. Selain itu keseimbangan hidup juga berpengaruh dimana di usia sangat muda, ia juga perlu menjaga keseimbangan antara studi intens dan pertumbuhan pribadi serta kebutuhan emosional sebagai anak-anak.

Untungnya, lingkungan institut sudah menyiapkan support system pembimbing, mentor, dan program pendamping agar ia gak terbebani sendirian.

Fasilitas dan kebijakan khusus juga disediakan supaya ia dapat berkembang secara optimal. Kisah bocah prodigy ini mengingatkan kita kalau potensi anak muda bisa sangat luar biasa, jika dibimbing dan diberi ruang untuk berkembang.

Baca juga: Real Prodigy! Baek Kang-hyun, Seorang Anak dengan IQ 204 yang Mengincar Oxford di Usia 12 Tahun

Banyak mahasiswa dan generasi muda yang merasa perjuangan akademik itu berat, tapi ketika melihat prestasi seperti ini, kita jadi ingat kalau tantangan besar pun bisa dihadapi dengan kerja keras dan semangat.

Nah, gimana pendapat kamu tentang bocah prodigy ini?

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Brusselstimes.com

BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU

Bocah Prodigy Belgia yang Menjadi Doktor di Usia Dini

Close
Close
Close
Close
Link berhasil disalin!