INDOZONE.ID - Kesehatan mental masih menjadi isu sosial yang sering kali terpinggirkan di tengah masyarakat. Banyak Orang dengan Gangguan Jiwa (ODGJ) yang tidak hanya berjuang melawan kondisi psikologis mereka, tetapi juga menghadapi tekanan sosial dan stigma yang mengasingkan.
Padahal, penyebab gangguan jiwa tidak sesederhana persoalan medis; faktor lingkungan, pengalaman hidup, dan penerimaan sosial turut berperan besar.
Sebagian besar ODGJ yang kini tinggal di Yayasan Bina Tauhid Darul Miftahuddin datang dari latar belakang kehidupan yang penuh ujian. Beberapa di antaranya mengalami kondisi broken home, ada yang ditelantarkan keluarga, dan tak sedikit yang kehilangan arah setelah tidak diterima di lingkungan asalnya.
Di balik kondisi mereka, tersimpan kisah panjang tentang kehilangan, kesepian, dan perjuangan untuk kembali pulih. Kondisi di yayasan ini juga menghadirkan tantangan tersendiri.
Baca juga: Bangga! Duta Kampus Unpas Jadi Putra Budaya Indonesia Berkat Program Aksara Sunda
Sebagian pasien masih hidup dalam sanitasi yang terbatas, dengan beberapa di antaranya menderita penyakit kulit akibat kurangnya kebersihan dan minimnya fasilitas mandi. Keseharian mereka diwarnai ketidakstabilan emosional, tetapi juga harapan untuk tetap bisa menjalani hidup dengan cara yang lebih sehat dan bermakna.
Melihat realitas tersebut, Departemen Sosial dan Pengembangan Masyarakat BEM FEMA IPB University bersama Humanies Project berkolaborasi merancang program “Sahabat Jiwa” dengan tema besar “Unity in Empathy & Strength in Collaboration.”
Program ini berlangsung selama tiga minggu, sejak 18 Oktober hingga 1 November 2025, dan berfokus pada peningkatan kesejahteraan mental, fisik, serta sosial bagi para teman istimewa di Yayasan Bina Tauhid Darul Miftahuddin.
Melalui pendekatan berbasis keilmuan dan kemanusiaan, Sahabat Jiwa hadir sebagai ruang kolaborasi antara mahasiswa, tenaga kesehatan, dan masyarakat untuk mendukung proses pemulihan para ODGJ.
Baca juga: Dinilai Sudah Terlalu Melenceng dari 'Jati Diri' Kampus, UI Diminta Kembali Fokus ke Akademik
Kegiatan pertama berfokus pada pengelolaan emosi melalui media seni dan tulisan. Para peserta diajak menulis perasaan mereka dalam bentuk journaling serta melukis di atas kaos putih sebagai media ekspresi diri. Tulisan dan warna menjadi jembatan bagi mereka untuk melepaskan beban emosional yang selama ini tertahan.
“Saya seneng kak bisa nulis hari ini. Biasanya aku juga nulis di buku buat nulisin cerita perjalanan hidupku sebagai anak broken home,” ujar Adam Malik salah satu teman istimewa yang ada di sana.
Bagi mereka, kegiatan sederhana seperti menulis dan melukis menjadi bentuk terapi yang menenangkan. Setiap goresan warna pada kaos putih melambangkan perjalanan emosi dari sedih, tenang, hingga bahagia. Latar belakang dan perjalanan hidup juga dicurahkan melalui lukisan di kaos putih.
Kegiatan hari kedua difokuskan pada penerapan pola hidup bersih dan sehat. Pagi hari dimulai dengan senam bersama untuk membangkitkan semangat, dilanjutkan dengan demonstrasi cuci tangan sehat dan edukasi “Isi Piringku.”
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: