Nyi Raden Calvinca Naomi Poerawinata (radarjogja.jawapos.com)
INDOZONE.ID - Perjalanan akademik seseorang kadang penuh tantangan, tapi bagi Nyi Raden Calvinca Naomi Poerawinata, semua tantangan itu gak masalah kalau membuahkan hasil gemilang.
Perempuan yang akrab disapa Vinca ini berhasil Menjadi mahasiswi double degree dengan menuntaskan studi secara beriringan di Universitas Gadjah Mada (UGM), Indonesia, serta Maastricht University, Belanda sebuah pencapaian gak biasa yang layak mendapat sorotan.
Baca juga: Kisah Cut Vivia, Dari Ranking Terendah di kelas Hingga Tembus Kampus ITB
Pada 21 November 2024, Vinca resmi dinyatakan lulus dari Fakultas Hukum UGM melalui program internasional. Gak sampai dua minggu setelahnya, tepatnya 5 Desember 2024, ia kembali diwisuda di European Law School Maastricht University.
Di UGM, Vinca mengambil konsentrasi Hukum Internasional. Sementara di Maastricht, ia mendalami sistem hukum Eropa termasuk hukum di negara seperti Belanda, Prancis, Jerman, Inggris, bahkan beberapa kajian kasus dari Amerika Serikat.
Program double degree ini gak datang mudah. Vinca memulai studi di UGM pada semester 1 dan 2. Lalu, di semester 3 hingga 6, ia melanjutkan ke Maastricht University di Belanda.
Setelah itu, ia kembali ke UGM untuk semester 7 dan 8, lalu menyelesaikan skripsinya dengan pengawasan bersama (joint supervision) antara dosen UGM dan Maastricht.
Meski berat, usaha itu membuahkan hasil. Vinca lulus dengan IPK 3,75 dari kedua institusi sebuah indikator kesungguhan dan konsistensi akademik.
Menariknya, skripsi yang ditulis Vinca bukan sekadar syarat akhir, melainkan representasi dari kepeduliannya terhadap isu keadilan sosial.
Ia memilih topik tentang pendidikan tinggi inklusif bagi penyandang disabilitas mengevaluasi implementasi hak pendidikan berdasarkan Pasal 24(5) dari Konvensi Hak-Hak Penyandang Disabilitas menggunakan studi kasus di UGM.
Pengalaman pribadi sebagai sukarelawan bagi anak-anak berkebutuhan khusus sempat membuka matanya terhadap ketimpangan akses pendidikan.
Ketika melanjutkan studi di Eropa, ia bertemu sosok perempuan pemimpin yang memperjuangkan undang-undang disabilitas di tingkat Eropa. Tokoh tersebut akhirnya menjadi pembimbing sekaligus inspirasi bagi Vinca dalam penulisan tugas akhir.
Metode pembelajaran di Maastricht University pun berbeda. Menggunakan metode Socratic atau Problem Based Learning (PBL), Vinca harus membaca 80 hingga 100 halaman sebelum kelas dan siap menjawab berbagai studi kasus di ruang diskusi.
Baca juga: Kisah Perjalanan Andhika Satria Pratama, Alumni UGM yang Melanjutkan S3 di Swedia
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Radarjogja.jawapos.com