Tenaga medis sedang melayani korban terdampak (ugm.ac.id)
INDOZONE.ID - Universitas Gadjah Mada (UGM) terus melakukan aksi nyata untuk membantu korban bencana Sumatra, khususnya pengerahan tenaga medis. UGM mengirimkan tenaga medis melalui jaringan Academic Health System (AHS).
Ketua Tim AHS UGM, dr. Sudadi, menyebut bahwa pihaknya sudah mengirim 7 tim secara bergantian ke Provinsi Aceh, tepatnya di daerah Lhoksukon, Kabupaten Aceh Utara, dan Kabupaten Bener Meriah.
“Hingga saat ini kita sudah mengirim 7 tim yang setiap pekan kita berangkatkan ke sana. Tim medis ini kita tempatkan selama seminggu di lokasi,” ujarnya.
Ia menjelaskan, tim relawan yang dikirim meliputi tenaga medis, terdiri dari dokter spesialis lintas disiplin, apoteker, perawat, nutrisionis, dan sanitarian dari FK-KMK dan RSA UGM, serta beberapa rumah sakit mitra.
Sudadi menyebut bahwa setiap pekannya ada sekitar 11-15 anggota tim yang diberangkatkan ke lokasi terdampak.
Salah satu anggota Tim Pokja Bencana FK-KMK UGM, Maryami Yuliana Kosim, menyampaikan kontribusi UGM tidak lepas dari komitmen fakultas terhadap kepedulian dan pengembangan praktek bencana.
Ia mengatakan, UGM sudah turut andil dari awal dalam pengembangan Health Emergency Operation Center (HEOC), yang diaktivasi jadi pusat komenadi, kontrol, dan koordinasi untuk tanggap darurat bencana.
Sistem HEOC dari klaster kesehatan ini juga menggunakan Incident Command System, yang mengordinir beberapa sub klaster, seperti promosi kesehatan, pelayanan kesehatan, P2 dan kesling, gizi, DVI, dan jiwa.
Maryami juga menegaskan, tim AHS UGM siap dukung rencana pemerintah untuk mengirimkan 600 tenaga kesehatan guna menangani dampak bencana di Sumatra.
Saat ini, UGM merespons dengan melakukan rekrutmen lewat kolegium-kolegium pada masing-masing profesi dan spesialisasi. Cara ini memungkinkan keterlibatan tenaga kesehatan dari lintas latar belakang.
Baca juga: 6 Cara supaya Liburan Semester Tetap Produktif, Biar Gak Cuma Main Hp Aja
Pengerahan tim medis dari FK-KMK merupakan upaya sistem HEOC di daerah terdampak, dan membuat asesmen terkait untuk pengerahan tenaga medis tersebut. Pengiriman ini melibatkan para dosen, staf AHS UGM, serta mahasiswa.
Selain itu, tim juga melakukan pendampingan secara berkelanjutan melalui sistem pergantian tim setiap tujuh atau delapan hari. Fokus pendampingan bukan hanya pada layanan medis, tapi juga memastikan fasilitas kesehatan bisa berfungsi secara optimal.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Ugm.ac.id