INDOZONE.ID - Salah seorang mahasiswa jurusan Manajemen Universitas Katolik Widya Mandira (UNWIRA), Julian Barbara Lipat Mukin, mengharumkan nama kampusnya.
Bagaimana tidak, ia menjadi juara 2 kategori Inovasi Digital Terbaik ajang International Youth Innovation Summit (IYIS) Chapter Malaysia and Singapore yang digelar pada 26-29 Januari 2026.
Ia bersama timnya yang beranggotakan enam orang membawakan sebuah inovasi pengelolaan sampah berbasis digital untuk memberikan kesadaran bagi masyarakat akan pentingnya menjaga lingkungan.
Inovasi tersebut sesuai dengan tema acara “Youth Digital Innovation: Pioneering Innovation for Tomorrow’s Leaders in Achieving Sustainable Development Goals (SDGs)”.
“Banyak orang tahu itu penting, tapi belum terbiasa melakukannya. Oleh karena itu, kami memilih pendekatan inovasi digital agar edukasi tidak terasa menggurui, melainkan hadir sebagai pengalaman yang menarik,” tuturnya.
Baca juga: Petakan Potensi Risiko Penyakit, Mahasiswa KKN Undip Bantu Warga Ciptakan Lingkungan Sehat
Inovasi tersebut mereka realisasikan menjadi sebuah aplikasi canggih yang saling terhubung dengan photobooth bernama Wasteback.
Aplikasi tersebut memungkinkan masyarakat mendapatkan poin yang dapat dikumpulkan tiap mengelola sampah. Nantinya, poin yang telah dikumpulkan itu bisa mereka tukar dengan totebag, boneka, bahkan voucher belanja.
Julian bersama timnya melibatkan peran besar warga sekitar untuk berpatisipasi secara kreatif dan aktif.
“Selama ini, kampanye tentang sampah sering berhenti di sosialisasi. Kami ingin menghadirkan solusi yang mendorong partisipasi aktif, membangun kebiasaan, dan menanamkan nilai peduli lingkungan sejak usia muda, bukan hanya sebatas memberi informasi,” ujar Julian.
Baca juga: Bukan Kaleng-Kaleng, Mahasiswa Unair Ini Raih Beasiswa PMDSU di Usia 21 Tahun
Kehadiran Julian di Singapura dan Malaysia tak semata-mata untuk menghadiri perlombaan, namun menjadi kesempatan baginya mendapatkan pengalaman akademik di National University Singapore (NUS) dan Universiti Malaya.
“Di NUS, saya melihat bagaimana budaya disiplin, sistem pembelajaran lecture dan tutorial, serta lingkungan kampus yang sangat mendukung pola pikir kritis dan inovatif. Sementara di Universiti Malaysia, saya belajar tentang suasana akademik yang kolaboratif, pemanfaatan fasilitas belajar seperti perpustakaan, dan budaya belajar yang mendorong mahasiswa untuk aktif,” tambahnya.
Pencapainnya bersama tim tak bisa dilepaskan dari dukungan para dosen. Menurutnya, dukungan dari mereka berperan penting untuk menumbuhkan semangat mahasiswa untuk berani mencoba hal baru.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Unwira.ac.id