Ilustrasi limbah makanan (Antara)
INDOZONE.ID - Di tengah hangatnya tradisi silaturahmi dan berbagi jamuan saat Idulfitri, muncul persoalan yang kerap luput dari perhatian: lonjakan sampah makanan. Dosen Fakultas Ekonomi dan Manajemen (FEM) IPB University, Dr Meti Ekayani menilai fenomena ini mencerminkan paradoks dalam budaya konsumsi masyarakat.
Niat untuk memuliakan tamu dengan menyediakan hidangan berlimpah justru sering berujung pada pemborosan makanan.
“Kalau ditanya penyebabnya, sebenarnya ada dua hal, budaya konsumsi masyarakat dan sistem pengelolaan sampah yang belum efektif,” ujarnya.
Ia menjelaskan, dalam budaya masyarakat Indonesia yang juga banyak dijumpai di negara Asia dan Timur Tengah, menyediakan makanan berlimpah sering dianggap sebagai bentuk penghormatan kepada tamu. Akibatnya, banyak rumah tangga menyiapkan hidangan jauh melebihi kebutuhan.
Baca juga: IPB University Bagikan 5.400 Bingkisan Lebaran untuk Pegawai, Wujud Apresiasi dan Kebersamaan Kampus
“Kita cenderung tidak mau dianggap tidak sopan kalau makanan kurang. Jadi lebih baik dilebihkan. Padahal sering kali akhirnya tidak habis,” jelasnya.
Kondisi ini semakin diperparah oleh minimnya perencanaan konsumsi di tingkat rumah tangga. Banyak keluarga memasak atau membeli makanan tanpa memperhitungkan jumlah anggota keluarga yang benar-benar akan makan di rumah.
Fenomena tersebut menjadi semakin terlihat selama Ramadan hingga Idulfitri. Saat berbuka puasa, masyarakat sering membeli berbagai jenis makanan karena “lapar mata”. Namun ketika waktunya makan, tidak semua makanan tersebut benar-benar dikonsumsi.
“Sering kali kita merasa semua makanan terlihat enak saat membeli. Tapi ketika waktunya makan, ternyata tidak habis,” katanya.
Selain itu, perubahan aktivitas selama Ramadan juga turut memicu pemborosan makanan. Tidak jarang anggota keluarga memiliki agenda berbuka puasa di luar, sementara makanan sudah terlanjur disiapkan di rumah.
“Misalnya di rumah ada lima orang, tapi ternyata tiga orang berbuka puasa di luar. Akhirnya makanan yang sudah disiapkan menjadi berlebih,” ungkapnya.
Baca juga: Mahasiswa Itera Ubah Limbah Tongkol Jagung Jadi Briket Bernilai Ekonomi
Dr Meti menambahkan, persoalan food waste tidak berhenti pada pemborosan makanan. Dampaknya juga memperbesar timbulan sampah yang harus ditangani kota. Ia menilai sistem pengelolaan sampah di Indonesia masih belum mampu mendorong masyarakat untuk mengurangi sampah dari sumbernya.
“Pengelolaan sampah kita masih didominasi sistem kumpul ,angkut–buang. Berapa pun sampah yang dihasilkan, iurannya sama. Jadi tidak ada insentif bagi masyarakat untuk mengurangi sampah,” jelasnya.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: IPB