INDOZONE.ID – Mahasiswa Universitas Negeri Malang (UM) dari Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA), memperkenalkan metode pembelajaran bertajuk BATIKIN (Batik Kimia Nusantara) di kelas XI-G SMAN 1 Malang.
Kegiatan tersebut telah dilaksanakan pada akhir April lalu, di mana para siswa tampak antusias mempelajari BATIKIN, sebuah inovasi yang menggabungkan kerumitan rumus kimia dengan keindahan warisan budaya lokal.
Baca juga: Seru! Mahasiswa Vokasi UNAIR Ajak Anak Indonesia di Malaysia Belajar Budaya Nusantara
Program kreatif ini dipelopori oleh enam mahasiswa dari Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA), yaitu Ayu, Ghinan, Ais, Pashya, Tasya, dan Dynar.
Inovasi yang mereka ciptakan lahir sebagai jawaban atas keprihatinan terhadap rendahnya tingkat literasi kimia di kalangan pelajar, khususnya pada materi asam-basa yang sering dianggap sulit dipahami dan kurang relevan dengan kehidupan nyata.
“Pembelajaran kimia harus bisa dirasakan manfaatnya oleh siswa, bukan sekadar dihafal,” tutur tim pengembang.
Melalui BATIKIN, konsep asam-basa yang biasanya hanya ada di buku teks dapat diubah menjadi kegiatan praktikum yang menyenangkan.
Proyek ini juga bukan sekadar tugas kuliah biasa, melainkan bagian untuk mendukung Sustainable Development Goals (SDGs) poin ke-4, yakni mewujudkan pendidikan berkualitas.
Sebenarnya, persiapan telah dilakukan secara matang sejak awal tahun 2026. Dimulai dari studi literatur pada akhir Januari hingga perancangan konsep yang detail.
Proses pembuatan media pembelajarannya sendiri memakan waktu satu bulan penuh, dari Maret hingga April, sebelum akhirnya dipraktikkan langsung kepada para siswa.
Baca juga: Petra Parade 2026 Jadi Wadah Siswa SMA Temukan Potensi dan Arah Karier Sejak Dini
Dalam kegiatan yang diselenggarakan, para siswa diperkenalkan Ethnochem Kit. Perangkat praktikum sederhana ini berisi buku panduan, kertas bergambar pola batik, cotton bud, serta bahan-bahan alami seperti kunyit sebagai indikator alami, serta cairan sampel berupa cuka dan sabun.
Siswa dibagi ke dalam beberapa kelompok untuk melakukan percobaan membatik berbasis kimia.
Cara yang dilakukan cukup unik, larutan kunyit dioleskan ke kertas batik, kemudian siswa menggunakan cotton bud yang telah dicelupkan ke cairan asam (cuka) atau basa (sabun) untuk menggambar di atasnya.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Um.ac.id