Sabtu, 28 JUNI 2025 • 16:44 WIB

Perjalanan Tim Undip Mengikuti Liga Esports Nasional Mahasiswa 2025 hingga Masuk 16 Besar

Author

Tim Esports Undip dalam Ligama Esports Nasional Mahasiswa 2025. (Z Creators/Ghefira)

INDOZONE.ID - Di balik padatnya kegiatan perkuliahan dan organisasi, siapa sangka bahwa semangat kompetisi juga tumbuh subur lewat dunia esports? Tahun 2025 menjadi saksi ketika tim esports Universitas Diponegoro menorehkan pencapaian manis dalam ajang Liga Esports Nasional Mahasiswa LENM 2025. 

"Awalnya kami hanyalah tim yang baru saja dibentuk. Divisi Honor Of Kings di bawah UKM DEC (Diponegoro Esports Community) merupakan unit yang masih segar, bahkan first gathering-nya baru dilakukan beberapa hari menjelang pelaksanaan LENM 2025. Namun dari sinilah semuanya bermula."

"Semua bermula ketika aku mendapat ajakan dari kakak tingkat untuk ikut serta dalam kompetisi LENM 2025. Bagiku, ini bukan sekadar ajang turnamen, tapi juga langkah awal yang bagus bagi divisi esports yang baru saja dibentuk di bawah DEC."

Momen ini jadi peluang besar untuk unjuk gigi sekaligus menghidupkan semangat kompetisi sehat di lingkungan kampus.

Baca juga: Mahasiswa KKN Undip Sapa Warga Kaligawe di Malam 1 Suro, Bentuk Harmonisasi Budaya

Dari berbagai fakultas banyak mahasiswa yang memiliki ketertarikan terhadap game kompetitif seperti Mobile Legends dan Valorant berkumpul dan menyusun rencana. 

Tim Esports Undip dalam Ligama Esports Nasional Mahasiswa 2025. (Z Creators/Ghefira)

"Kami mengikuti seleksi terbuka yang diadakan oleh UKM DEC. Proses seleksi dari skill mekanik, komunikasi dalam game, kerja sama tim, hingga pengalaman turnamen yang pernah diikuti .Akhirnya, tim utama terbentuk."

Susunan tim Liga Esports UNDIP

Pemain Inti

  • Olaf Rendi Rorian
  • Muhammad Dafa Umar R
  • Aprilio Abbie Yonata
  • Azka Raihan
  • Hayfa Rafi Nugraha

Pemain Cadangan

  • Evan Kyle Atria
  • Satria Ramadhan

Team Manager: Ghefira Syahira Sufa
Team Coach: Farhan Maulana Putra

"Perjalanan kami dimulai jauh sebelum pertandingan resmi digelar. Karena kuliah tetap harus jalan, kami harus pintar-pintar mengatur waktu. Latihan rutin dilakukan malam hari, kadang sampai larut malam."

"Tak hanya sekadar mabar, kami juga sparring lawan tim-tim luar (scrim), mereview gameplay kami sendiri, berdiskusi soal draft dan strategi, sampai mengatur ulang peran di dalam tim agar komposisi lebih optimal."

Tentu saja ada perbedaan pendapat, ego yang sempat memanas, hingga kelelahan fisik dan mental. Namun, justru dari situ tim ini belajar tentang arti menjadi tim. Saling menghargai, terbuka dalam komunikasi, dan mau menerima kritik demi kebaikan bersama jadi kunci yang memperkuat chemistry mereka.

Masuk ke babak penyisihan, suasana kompetisi makin terasa. Rasanya seperti mimpi. Tapi mereka tahu, satu-satunya cara untuk bisa sejajar adalah dengan menunjukkan kemampuan terbaiknya.

"Salah satu momen paling memorable adalah saat melawan Universitas Hasanuddin. Kami sempat mengalami ketertinggalan poin, tapi dengan rotasi cermat dan kerja sama yang solid, kami berhasil membalikkan keadaan. Skor akhir menjadi 2–1 untuk UNDIP. Momen itu benar-benar jadi titik balik semangat kami. Tapi itulah esensi dari turnamen bukan hanya menang, tapi berkembang."

Ketika pengumuman 16 besar nasional keluar, nama UNDIP tercantum. Rasa syukur, kaget, dan bangga campur aduk jadi satu. Dari Jawa Tengah, hanya tiga tim yang lolos: UNDIP, UNNES, dan UNIKA. 

"Menariknya, kami pernah bermain bersama di tempat yang sama, bahkan saling menyemangati satu sama lain. Saling dukung meski beda almamater inilah sisi indah dari komunitas esports mahasiswa."

Tim Esports Undip dalam Ligama Esports Nasional Mahasiswa 2025. (Youtube)

"Di babak 16 besar, kami masuk ke grup yang terdiri dari empat universitas. Minggu pertama, kami melawan UNILA dan harus mengakui keunggulan mereka (UNDIP 0 – 2 UNILA). Minggu kedua, kami bangkit dengan mengalahkan Polsri Kings (UNDIP 2 – 0 Polsri Kings), dan di minggu terakhir, kami mengunci kemenangan atas UMB Cosmic (UNDIP 2 – 0 UMB Cosmic)."

Dengan total 6 poin, Tim UNDIP menutup fase grup di posisi kedua. Sayangnya, hanya satu tim dari tiap grup yang lolos ke 8 besar, dan UNILA unggul di atas kami dengan 9 poin. Meski langkah kami terhenti, mereka sudah melakukan yang terbaik. 

Capaian masuk 16 besar bukan hanya tentang hasil, tapi tentang proses. Ini jadi bukti bahwa esports bukan sekadar main game, tapi juga ruang belajar. 

"Kami belajar tentang manajemen waktu, kerja sama tim, strategi, tekanan mental, dan juga tentang bagaimana membangun jaringan serta reputasi di antara kampus-kampus lain."

Harapannya, pihak kampus bisa lebih terbuka untuk mendukung kegiatan seperti ini, bukan melihatnya sebagai pengganggu akademik, tapi sebagai pelengkap penting dalam pembentukan karakter dan soft skill mahasiswa. 

Karena pada akhirnya, yang jadi juara bukan hanya mereka yang menang dalam skor, tapi juga mereka yang terus bertumbuh dari kekalahan, dari pengalaman, dan dari semangat untuk terus mencoba.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Amatan

TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU