INDOZONE.ID - Mahasiswa Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Airlangga kembali membanggakan Indonesia dengan membawa kearifan lokal ke panggung global.
Riset mereka yang mengupas tuntas tradisi medis di Pulau Parang, Karimunjawa, Jawa Tengah, berhasil menuai apresiasi dan diskusi hangat di dunia internasional.
Penelitian berjudul “Unmasking Local Belief: Traditional Medicine as First Aid Solution and Hereditary Culture in Parang Island” ini membahas pemanfaatan tumbuhan lokal, seperti Daun Rebo Biso, sebagai metode pengobatan utama.
Baca juga: Jadi Fenomena Budaya, Guru Besar UGM Sebut Ada Tiga Jenis Masuk Angin
Dipresentasikan di Forum Internasional
Tim yang terdiri dari Ilham Baskoro, Karina Kusuma, dan Nydia Yuliana, menyampaikan hasil penelitian ini dalam 'History of Medicine in Southeast Asia (HOMSEA) Conference'.
Forum internasional ini digelar di Universitas Gadjah Mada pada 24-27 Juni 2025, diikuti oleh 140 peserta dari 14 negara yang berasal dari berbagai bidang, mulai dari sejarah, antropologi, kedokteran, hingga kebijakan publik.
Menurut Ilham, riset ini menarik perhatian karena mengangkat topik yang unik, terutama karena akses fasilitas medis modern di Pulau Parang masih sangat terbatas.
“Presentasi kami banyak mendapat apresiasi karena mengangkat sesuatu yang dianggap unik. Bagaimana masyarakat di pulau terpencil mengandalkan akar, daun, dan kearifan lokal sebagai pertolongan pertama,” ujarnya.
Kekuatan Spiritual dan Kultural dalam Pengobatan
Baca juga: UGM Gandeng GL Zoo Kerja Sama Riset Plasma Nutfah Spesies Ikan Invasif dan Burung Unta
Di samping fungsinya sebagai obat, tradisi ini juga sarat akan simbol-simbol spiritual dan kultural.
Contohnya adalah kesakralan air rebusan kayu Dewandaru serta praktik dukun bayi dan dukun magis yang telah menyatu dalam kehidupan warga setempat.
Riset ini tidak dipilih tanpa alasan. Ilham mengungkapkan ada alasan mendalam di balik pemilihan topik ini.
“Kami percaya bahwa etnomedis Pulau Parang adalah jembatan antara ilmu dan kebudayaan. Ini memberikan wawasan baru yang mendapat apresiasi langsung oleh akademisi dari luar negeri,” jelasnya.
Riset mahasiswa UNAIR ini dianggap membuka sebuah wawasan baru. Ini jadi bukti bahwa tradisi lokal itu punya nilai yang luar biasa. Bukan cuma cerita lama, tapi bisa jadi solusi nyata yang relevan hingga kini.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Unair.ac.id, Ugm.ac.id