INDOZONE.ID - Bagi kamu calon mahasiswa baru, mungkin berbagai pertanyaan telah memenuhi benak.
Apakah dosen di perkuliahan akan sekaku dan sesulit di SMA? Atau, apakah kuliah berarti kebebasan penuh untuk melakukan apa saja tanpa batasan?
Gambaran-gambaran ini mungkin terdengar menarik dan menjadi bumbu penyemangat saat membayangkan kehidupan kampus.
Namun, tidak semua ekspektasi yang terbangun akan sesuai dengan realita yang dihadapi, terutama setelah kamu resmi menyandang status sebagai mahasiswa baru.
Mari kita bedah beberapa mitos populer tentang perkuliahan yang mungkin baru terasa 'tidak tepat' setelah kamu mengalaminya langsung.
1. Kuliah Lebih Santai, Bebas, dan Fleksibel Dibanding Masa Sekolah
Baca juga: 3 Hal Tabu Bagi Mahasiswa! Hindari Ini Kalau Kamu Mau Kuliah Tanpa Drama
Banyak yang beranggapan bahwa kehidupan di kampus akan jauh lebih bebas, terlihat dari aturan berbusana, jam pulang yang tidak ketat, dan minimnya pengawasan guru.
Anggapan ini tidak sepenuhnya benar ataupun salah. Justru, perbedaan esensial antara sekolah dan kuliah terletak pada pengelolaan tugas dan tanggung jawab.
Kelonggaran jadwal kelas dan struktur mingguan yang lebih fleksibel justru dapat memicu kelalaian dalam pengumpulan tugas. Beragamnya aktivitas akademik dan non-akademik menuntut kamu untuk memiliki manajemen waktu yang lebih baik.
Artinya, kamu dituntut untuk lebih disiplin pada diri sendiri, karena tidak lagi ada pengawasan dan bantuan intensif dari guru.
2. IPK Tinggi Jaminan Masa Depan Cerah
Keyakinan bahwa IPK tinggi akan menjamin pekerjaan seringkali berasal dari pandangan generasi sebelumnya, di mana meraih IPK sempurna (4.0) dianggap sangat sulit dan menjadi sebuah prestasi luar biasa.
Hingga kini, IPK 4.0 masih menjadi primadona dan kebanggaan saat wisuda.
Nyatanya, dalam konteks perkuliahan, IPK memang merupakan indikator penting dari kemampuan akademis. Namun, faktanya IPK bukanlah satu-satunya atau jaminan mutlak untuk meraih kesuksesan di dunia kerja.
Dunia kerja saat ini menuntut kemampuan praktis (skill), pengalaman nyata melalui hasil karya (portofolio), serta pengalaman terjun langsung ke lapangan seperti magang dan berorganisasi.
Kini, banyak perusahaan yang lebih mengutamakan kandidat dengan kombinasi kemampuan praktis yang kuat dan pengalaman relevan yang tinggi.
Baca juga: Inflasi IPK Nyata! “Harga” IPK 4.0 Kini Hanya Tiket Masuk Kerja
3. Dosen Pasti Galak dan Tidak Peduli dengan Mahasiswa
Gambaran dosen yang kaku, galak, minim senyum, dan berusia lanjut seringkali melekat dalam benak mahasiswa baru.
Rasa enggan dan takut kerap muncul, menghalangi mahasiswa baru untuk berinteraksi lebih aktif.
Faktanya, sebagian besar dosen di era sekarang justru lebih terbuka dan tidak terpaut pada usia tertentu untuk menjadi pengajar.
Mereka sangat peduli dan responsif terhadap perkembangan serta pencapaian akademik mahasiswanya.
Bahkan, tidak sedikit dosen yang merasa senang ketika mahasiswanya menunjukkan inisiatif untuk bertanya, berdiskusi, atau berkonsultasi mengenai materi kelas.
Komunikasi proaktif ini justru dapat membangun relasi yang baik dengan dosen, membuka berbagai kesempatan berharga seperti terlibat dalam riset, proyek, dan bimbingan akademik yang lebih mendalam.
Perkuliahan merupakan babak baru dan fase transisi krusial sebelum kamu terjun ke dunia kerja yang sesungguhnya.
Dengan memahami perbedaan antara ekspektasi dan realita, kamu dituntut untuk lebih mandiri dalam memilah informasi dan mempersiapkan diri menghadapi berbagai tantangan serta peluang yang akan ditemui.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Instagram/@gradient_idn