INDOZONE.ID - Masyarakat Dukuh Roban Barat, Desa Kedungsegog, Kecamatan Tulis, Kabupaten Batang kembali menyelenggarakan Tradisi Nyadran Laut pada tahun ini, tepatnya pada hari Senin, 7 Juli 2025, bertepatan dengan bulan Muharram dalam kalender Hijriah. Tradisi ini merupakan agenda tahunan yang selalu dilaksanakan pada bulan Muharram sebagai bentuk syukur masyarakat pesisir atas rezeki dari laut serta permohonan keselamatan kepada Allah SWT.
Sebagai kawasan pesisir, mayoritas penduduk Roban Barat menggantungkan hidup dari sektor perikanan. Laut menjadi sumber utama penghidupan sekaligus bagian penting dari budaya dan kepercayaan masyarakat. Oleh karena itu, pelaksanaan Nyadran Laut tidak hanya bersifat ritual, tetapi juga mencerminkan hubungan spiritual antara manusia dan alam.
Kegiatan tersebut turut melibatkan mahasiswa Universitas Diponegoro (Undip) yang sedang melaksanakan Kuliah Kerja Nyata (KKN) di Dukuh Roban Barat, Desa Kedungsegog. Para mahasiswa KKN aktif berkontribusi dalam persiapan, dokumentasi, hingga pelaksanaan kegiatan sebagai bentuk pengabdian kepada masyarakat sekaligus pembelajaran langsung mengenai budaya lokal.
Rangkaian kegiatan dimulai pada hari Sabtu malam, 5 Juli 2025, dengan pertunjukan kesenian Sintren. Sintren merupakan tarian tradisional yang berkembang di pesisir pantai utara Jawa.
Baca juga: Mahasiswa KKN Undip Bantu Hidupkan Kembali Gerakan Literasi Membaca di SDN 2 Wiro, Klaten
Kemudian pada hari Minggu malam, 6 Juli 2025, dilaksanakan istighosah bersama, yaitu doa bersama yang dipimpin oleh tokoh agama dan dihadiri oleh masyarakat setempat.
Acara puncak berlangsung pada hari Senin pagi, 7 Juli 2025, dengan pelarungan sesaji ke laut. Sesaji tersebut diletakkan dalam miniatur kapal berukuran kecil yang dicat merah putih dan dihiasi bendera Merah Putih. Kapal tersebut berisi berbagai macam jajanan pasar, makanan ringan, buah-buahan, kelapa, dan hasil bumi lainnya, yang melambangkan bentuk syukur kepada Allah SWT dan persembahan masyarakat kepada laut.
Setelah kapal sesaji dilarungkan ke tengah laut, masyarakat secara bersama-sama mengelilingi sesaji tersebut sebanyak tujuh kali menggunakan perahu nelayan milik mereka.
Pada malam harinya, Senin malam, 7 Juli 2025, digelar pertunjukan wayang kulit yang merupakan acara wajib dalam rangkaian tradisi Nyadran Laut. Wayang kulit tidak hanya berfungsi sebagai hiburan, tetapi juga menjadi media untuk menyampaikan nilai-nilai moral, kebijaksanaan hidup, serta pelestarian tradisi Jawa.
Rangkaian kegiatan ditutup pada hari Selasa, 8 Juli 2025, dengan berbagai kegiatan kemasyarakatan seperti senam bersama ibu-ibu Roban Barat di pagi hari, hiburan orkes dangdut pada siang hari, dan pengajian umum pada malam harinya.
Baca juga: Warisan Rasa dari Sokowolu: Teh Sangan Dapat Panggung Lewat Inovasi KKN UNDIP
Tradisi Nyadran Laut di Roban Barat tidak hanya menjadi bentuk penghormatan terhadap laut dan sumber kehidupan, tetapi juga menjadi sarana memperkuat kebersamaan warga. Keterlibatan mahasiswa KKN Undip turut membantu keberlangsungan acara sekaligus memperkuat peran generasi muda dalam pelestarian budaya lokal yang sarat nilai spiritual, sosial, dan kebangsaan.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Liputan Langsung