Jumat, 18 JULI 2025 • 00:00 WIB

Mahasiswi UI Dapat Penghargaan Best Student Paper di Ajang Konferensi STR, Soroti Pendanaan untuk Aksi Terorisme

Author

Tsabita Afifah Khoirunnisa mendapatkan penghargaan Best Student Paper (ui.ac.id)

INDOZONE.ID - Tsabita Afifah Khoirunnisa, mahasiswa Program Studi Kajian Terorisme, Sekolah Kajian Stratejik dan Global (SKSG), Universitas Indonesia (UI).

Ia meraih penghargaan Best Student Paper dalam acara “Student Paper Competition 17th Annual International Conference of the Society for Terrorism Research (STR)”. Ajang ini berlangsung pada 7-8 Juli di Royal Holloway, University of London, Inggris. 

Konferensi STR 2025 adalah program akademik, dengan membahas dinamika terorisme saat ini. Bukan cuma itu, konferensi ini jadi ajang untuk memetakan riset, memperluas kolaborasi, serta membuat rancangan agenda dalam bidang studi terorisme. 

Baca juga: Beasiswa GKS Korsel: Biaya Hidup hingga Tunjangan Kesehatan Ditanggung Tiap Bulan, Ini Syaratnya

Forum kali ini mengangkat isu konflik geopolitik, ideologi teroris hibrida, serta penggunaan teknologi termasuk AI.

Lewat risetnya berjudul “The Charitable Mask: Sociocultural Practices of Terrorism Financing in Indonesia”. Pada riset ini, Tsabita mengkaji lebih dalam mengenai praktek sosial budaya seperti donasi. 

Dalam konteks ini, praktek tersebut dinilai sebagai bentuk kebaikan, tapi justru dimanfaatkan oleh kelompok teroris jadi ladang basah pendanaan alih-alih atas nama kemanusiaan.

Baca juga: 10 Fakultas Kedokteran Terbaik di Indonesia Versi Edurank, Mana yang Jadi Incaranmu?

Riset ini dilakukan olehnya selama 3-5 bulan lewat diskusi intens bersama dosen, wartawan, hingga mitra strategis Densus 88. Ia juga melakukan studi mendalam mengenai consumer society, perilaku donatur, sampai proses pendanaan.

“Salah satu tantangan terberat adalah mengatur waktu antara persiapan UAS, penyusunan full paper, dan pengurusan visa ke Inggris. Awalnya, saya tidak terlalu berekspektasi tinggi karena lolos tahap presentasi saja sudah sangat berarti,” kata Tsabita.

Baca juga: Kemendiktisaintek Gelar KSTI 2025 di ITB Ganesha: Ribuan Ilmuwan, Teknokrat, hingga CEO Bakal Hadir

Melewati Tiga Tahap

Pada penelitiannya kali ini, Tsabita harus melewati tiga tahapan, yaitu abstract submission, full paper submission, dan presentasi. Hasil riset ini akan terbit di jurnal bereputasi internasional Behavioral Sciences of Terrorism and Political Aggression. 

Tsabita mengaku kalau mengikuti forum ini bukan sebatas pengembangan akademik saja, tapi juga mengisi celah dalam studi terorisme.

“Selama ini, kajian pendanaan terorisme cenderung terpusat pada logika institusi dan negara. Padahal, sisi praktik sosial masyarakat juga sangat krusial dan rawan disusupi,” ujarnya.

Baca juga: Kuliah atau Organisasi? Begini Cara Mengatur Keduanya Biar Tetap Jalan Bareng

Jadi Landasan Kebijakan Terorisme

Ia berharap, penelitiannya bisa menjadi awal untuk riset lanjutan setelahnya, supaya lebih kritis terhadap pendanaan terorisme. 

Terakhir, Tsabita juga mengusulkan risetnya bisa digunakan sebagai landasan pengambilan kebijakan, khususnya bagi pemerintah terkait pencegahan radikalisasi dan pendanaan terorisme dari masyarakat. 

“Melalui penelitian, saya ingin mendorong mahasiswa UI untuk lebih berani mengeksplorasi pendekatan yang anti-mainstream dan tidak terpaku pada narasi dominan. Penelitian ini tidak terlepas dari dukungan positif Program Studi Kajian Terorisme. Ini adalah salah satu wujud komitmen kita untuk memperluas kajian terorisme agar tidak melulu menggunakan state logic, tetapi lebih inklusif dan kontemporer,” ujar Tsabita.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Ui.ac.id

TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU