INDOZONE.ID - Riset akademik jadi elemen penting dalam dunia pendidikan, yang bertujuan untuk mengembangkan ilmu pengetahuan dan temuan baru.
Dalam riset akademik ini banyak istilah-istilah populer yang harus diketahui oleh mahasiswa, dosen, atau bahkan peneliti. Namun, istilah ini seringkali masih disalahartikan, hingga bisa menghambat proses penelitian.
Pemahaman mengenai istilah populer dalam dunia riset ini bisa membantu kamu selama proses penyusunan.
Oleh karena itu, memahami istilah populer dalam dunia akademik jadi awal yang penting agar tidak salah langkah selanjutnya.
Baca juga: Lulus Cumlade Tanpa Skripsi? Mahasiswa UIN Banten Ini Bisa Buktikan Lewat Publikasi Jurnal
Istilah Populer dalam Dunia Riset
Impact Factor
Banyak orang masih salah mengartikan bahwa semua jurnal Scopus sudah pasti punya Impact Factor. Padahal keduanya berbeda, Impact Factor hanya dimiliki oleh jurnal-jurnal yang terindeks Web of Science (JCR/WoS).
Berbeda dengan jurnal Scopus, yang menggunakan sistem SJR (Scimago Journal Rank). Jurnal Scopus pun dibagi dalam kuartil Q1 sampai Q4.
Jurnal Predator
Jurnal predator mengarah kepada jurnal-jurnal dengan sistem biaya publikasi tapi gak kredibel. Jadi gak bisa semua jurnal dengan sistem bayar publikasi dianggap sebagai predator.
Banyak juga jurnal bereputasi yang menggunakan Article Processing Charge (APC), tapi tetap di angka wajar dan transparan.
Baca juga: Mahasiswa KKN UIN Walisongo Berikan Edukasi Cegah Brain Rot bagi Siswa SDN Kebondowo 02
Peer-Review Jurnal
Peer-review berarti jurnal ini dinilai oleh pakar sebelumnya diterbitkan. Akan tetapi, gak semua jurnal ISSN melewati proses ini.
Banyak orang menganggap jurnal dengan ISSN merupakan peer-review. Padahal, adanya ISSN hanya sebagai penanda terdaftar, bukan jaminan mutu dari jurnal tersebut.
Turnitin
Setiap tulisan yang ingin dipublikasi pastinya harus dicek tingkat plagiasinya dengan turnitin. Rata-rata batas maksimal turnitin untuk publikasi jurnal itu 20 %. Namun, ketika ada yang dibawah 20 % bukan berarti benar-benar aman.
Plagiarisme bukan cuma persentase aja, bisa saja turnitin 15 % tapi semua hanya copy paste, tanpa sitasi yang jelas. Padahal sitasi yang benar itu merupakan etika dalam dunia riset.
Baca juga: Mahasiswa Undip Sosialisasikan Penggunaan Alat Pengering Herbal yang Praktis dan Higienis
Open Access = Tidak Bereputasi
Banyak orang masih menilai bahwa jurnal open access itu tidak bereputasi. Padahal gak semua seperti itu. Terdapat banyak jurnal open access yang masuk Scopus Q1 atau WoS. Jadi, yang dimaksud open access tersebut adalah jurnal yang bisa diakses secara terbuka, bukan terkait kualitas.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Instagram/@brilliantpublisher