Jumat, 12 SEPTEMBER 2025 • 11:00 WIB

Inspiratif! Deva Ale, Mahasiswi ITB Stikom Ambon Presentasi Skripsi Pakai Bahasa Isyarat

Author

Deva Mahasiswi Inspiratif (Instagram/@devatuhuleruw)

INDOZONE.ID - Biasanya mahasiswa kalau udah mau sidang skripsi pasti tegang dan deg-degan, atau malah salah ngomong saat presentasi.

Tapi ada yang beda dari ruang sidang di ITB Stikom Ambon. Bukan soal slide presentasi yang estetik atau jawaban super cerdas, melainkan cara seorang mahasiswi bernama Deva Ale mempertahankan skripsinya.

Baca juga: Inspiratif! Kisah Mahasiswi Papua Selesaikan Skripsi Cuma Pakai Handphone

Kisah Deva Ale!

Deva Ale, mahasiswi jurusan Bisnis Digital, hadir dengan penuh percaya diri. Deva berdiri di depan para dosen penguji, bukan dengan suara melainkan menggunakan kelebihannya yakni bahasa isyarat.

Yup, Deva adalah mahasiswi Tuli sekaligus gak bisa bicara. Namun itu gak jadi alasan Deva untuk menyerah. 

Dengan tangan yang bergerak luwes, ekspresi yang penuh semangat, dan keyakinan yang kuat, ia menyampaikan hasil penelitiannya dengan baik di depan dosen penguji.

Video Deva saat sidang skripsi ini akhirnya viral di media sosial. Banyak netizen yang menyemangati serta salut pada Deva. Kegigihan, kepercayaan diri, serta semangat dan ketekunan yang di miliki Deva ikut tersampaikan pada netizen lewat vidio viral tersebut.

Bahasa Isyarat, Bahasa Masa Depan!

Cerita Deva Ale gak berdiri sendiri. Baru-baru ini pemerintah juga mengumumkan rencana memasukkan bahasa isyarat ke kurikulum nasional. Menko PMK, Pratikno, bilang ke depannya semua anak Indonesia perlu belajar bahasa isyarat. 

Alphabet sign (freepik.com)

Tujuannya jelas bukan cuma untuk teman-teman Tuli, tapi juga untuk bikin masyarakat lebih setara dan inklusif.

Agar akses bagi teman-teman disabilitas akan jauh lebih terbuka. Kebijakan ini juga kabarnya bakal masuk ke syarat seleksi CPNS dan sekolah kedinasan. 

Lebih Tepat Sebut Tuli, Bukan Tunarungu!

Selain itu, ada hal penting yang sering gak diketahui masyarakat umum. Istilah yang tepat untuk digunakan adalah “Tuli”, bukan “tunarungu”. Menurut komunitas, kata Tuli bukan sekadar label, tapi identitas.

Sementara “tunarungu” dianggap terlalu medis dan menekankan pada kekurangan. Jadi, dengan menyebut Tuli, artinya kamu menghargai cara mereka melihat diri sendiri.

Inspirasi Untuk Kamu!

Kisah Deva Ale jadi bukti nyata bahwa pendidikan inklusif itu bukan wacana kosong. Dari sebuah ruang sidang skripsi di Ambon, ia berhasil menunjukkan bahwa keterbatasan tidak akan pernah mengalahkan tekad. 

Baca juga: Mahasiswa ITB Ciptakan Gitar Akustik dari Material Karuun untuk Tugas Akhirnya: Keren Banget

Dengan bahasa isyarat, ia bukan hanya mempertahankan skripsi, tapi juga memberi pesan kuat bahwa setiap orang berhak untuk didengar, dengan caranya masing-masing. Semoga semakin banyak ruang di kampus maupun dunia kerja yang terbuka untuk mahasiswa Tuli dan penyandang disabilitas lainnya.

Nah menurut kamu, apakah bahasa isyarat itu penting untuk dipelajari semua masyarakat atau malah gak penting?

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Instagram/@suaramerdeka.network, TikTok/@nyong Eik

TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU