Selasa, 30 SEPTEMBER 2025 • 16:29 WIB

Kisah Inspiratif Uga: Penyandang Autisme yang Raih Magister dan Suarakan Anak-anak Senasib

Author

Anugrah Fadly Kreato Seniman (uny.ac.id)

INDOZONE.ID - Di balik keterbatasan, sering lahir kekuatan luar biasa. Begitulah yang tergambar dalam perjalanan hidup seorang mahasiswa Anugrah Fadly Kreato Seniman, atau yang biasa disapa Uga.

Didiagnosis mengidap Autism Spectrum Disorder (ASD) sejak kecil, Uga membuktikan autisme bukan penghalang untuk berprestasi. Justru dari situlah lahir tekad kuat yang membawanya meraih gelar Magister Pendidikan Luar Biasa dari Universitas Negeri Yogyakarta (UNY).

Baca juga: Kisah Ana Victoria, Mahasiswi Down Syndrome Cantik Pertama di Dunia yang Jadi Pengacara

Perjalanan Penuh Tantangan

Sejak kecil, jalur pendidikan Uga jauh dari kata mulus. Ia harus berpindah-pindah sekolah karena sulit menemukan lingkungan yang bisa menerima kondisinya. 

Penolakan dan tatapan berbeda sudah jadi bagian dari keseharian. Tapi, Uga gak pernah menyerah. Titik balik muncul ketika ia melanjutkan pendidikan di Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta.

Di kampus seni inilah ia akhirnya menemukan ruang yang suportif, yang membuatnya lebih percaya diri untuk berkarya sekaligus belajar. Lingkungan ini menjadi pondasi kuat yang mengantarkannya ke jenjang berikut: studi magister di UNY.

Lulus dengan Karya yang Menginspirasi

Bukan sekadar menyandang gelar, perjalanan Uga di UNY meninggalkan jejak bermakna. Tesisnya menjadi wujud nyata pengabdian. Ia meneliti bagaimana seni bisa jadi sarana ekspresi bagi anak-anak dengan autisme.

Penelitiannya gak berhenti di ruang teori. Uga bahkan melibatkan anak-anak autis langsung dalam sebuah pameran bertajuk “I’M POSSIBLE”. Pameran ini menampilkan karya seni dan menjadi ruang aman bagi mereka untuk berekspresi, dihargai, dan didengar.

Dari Autisme untuk Autisme

Sebagai penyandang autisme, Uga punya perspektif unik. Ia tidak hanya memahami lewat data, tetapi juga merasakan apa yang anak-anak itu alami sehari-hari. Dari pengalaman pribadi itulah lahir empati yang tulus.

Uga bertekad untuk memperjuangkan ruang bagi anak-anak autis agar mereka gak dipandang sebelah mata, melainkan diakui sebagai individu dengan potensi luar biasa.

Menjadi Inspirasi

Kisah Uga membuktikan kalau keterbatasan bukan akhir, tapi awal untuk menciptakan perubahan. Dari perjalanan yang penuh hambatan, ia berhasil menjadikannya pijakan menuju prestasi dan pengabdian dan perjuangan pribadi bisa menjadi jalan untuk membantu orang lain.

Baca juga: Kisah Perjalanan Waitatiri Penulis The Missing Colors: Dari Korban Bullying Jadi Alumni UI dan Harvard

Dari seorang anak yang kerap ditolak, kini ia berdiri sebagai akademisi muda yang bersuara untuk anak-anak autis. Nah, kalau Uga bisa menjadikan keterbatasan sebagai kekuatan, kamu kapan nih berani tunjukkan potensimu?

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Instagram/@kampusindonesia

TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU