INDOZONE.ID - Tim mahasiswa dari Institut Teknologi Bandung (ITB) mencuri perhatian lewat inovasi IoTelligence, detektor microsleep untuk pengendara, yang mendapatkan penghargaan dalam program Samsung Innovation Campus.
Inovasi ini memadukan teknologi Internet of Things (IoT) dan Artificial Intelligence (AI) untuk memantau kegagapan mata dan potensi kantuk pengemudi sebelum terjadi kecelakaan.
Baca juga: Sejarah Baru Mobil Listrik Dunia, Tim Arjuna UGM Borong 6 Penghargaan di Formula SAE Jepang 2025
Alat ini dirancang agar mampu mendeteksi gejala kantuk dini seperti gerakan kepala, pola kedipan mata, ataupun perubahan ekspresi lalu mengeluarkan peringatan agar pengemudi segera beristirahat.
Anggota Tim
Tim IoTelligence, ini beranggotakan Marzuli Suhada M (Teknik Informatika), Ahmad Mudabbir Arif (Teknik Informatika), Jihan Aurelia (Sistem dan Teknologi Informasi), dan Nasywaa Anggun Athiefah (Sistem dan Teknologi Informasi).
Mereka berempat berkolaborasi lintas keahlian untuk melahirkan inovasi yang segar dan solutif. Di bawah bimbingan Dr. Kusprasasra Mutijarsa, S.T., M.T., tim ini menunjukkan kemampuan mahasiswa ITB untuk bersaing di tingkat nasional.
Teknologi dan Mekanisme Kerja Alat
Berbeda dari sistem kamera konvensional, alat ini menggunakan modul sensor yang ringan dan hemat daya. Ia bekerja dengan memproses sinyal suara, pengukuran gerak kepala, dan analisis citra wajah secara real time.
Algoritma AI di dalamnya menganalisis tanda-tanda kantuk, seperti penurunan frekuensi kedipan mata, sudut kepala, dan kecepatan reaksi.
Jika sistem mendeteksi indikasi kantuk melebihi ambang batas, maka alarm audio dan visual* akan aktif untuk membangunkan kewaspadaan pengemudi.
Sensor ini dikemas dalam modul yang bisa dipasang di area dashboard atau tempat strategis di mobil, dan memanfaatkan koneksi IoT untuk konektivitas dan pemantauan data jarak jauh.
Tantangan dan Proses Inovasi
Tentunya tim ITB juga menghadapi tantangan berupa kondisi pencahayaan berbeda, orientasi sudut wajah pengemudi, variasi fisik yang besar (berbagai buku wajah), dan kebisingan sinyal input. Mereka melakukan pengujian di berbagai kondisi siang-malam dan berbagai kondisi jalan.
Proses pelatihan data AI melibatkan ribuan foto dan video dari subjek pengemudi dalam kondisi kantuk ringan hingga berat. Untuk memvalidasi akurasinya, mereka melakukan perbandingan dengan data medis dan uji kesiagaan secara langsung.
Implikasi dan Potensi Nyata
Alat ini punya prospek besar dalam meningkatkan keselamatan berkendara di Indonesia. Penggunaan masif bisa membantu mencegah kecelakaan karena kelelahan pengemudi, salah satu penyebab signifikan kecelakaan lalu lintas.
Selain itu, data kantuk bisa diolah untuk analisis statistik penegakan aturan lalu lintas atau kampanye keselamatan berkendara.
Baca juga: Mahasiswa KKN UGM Hidupkan Irigasi Bendung Uvenja Mati 14 Tahun di Donggala
Dalam jangka panjang, inovasi ini bisa diintegrasikan ke dalam sistem kendaraan pintar (smart car) atau kendaraan otonom sebagai lapisan keamanan tambahan.
Nah, dengan inovasi ini, kecelakaan lalu lintas dapat berkurang. Bagaimana dengan pendapat kamu?
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Itb.ac.id