INDOZONE.ID - Di tengah berbagai keterbatasan ekonomi, perjalanan seorang remaja asal Ponorogo ini menunjukkan bahwa tekad dan kerja keras bisa membuka jalan menuju mimpi besar.
Inilah kisah Afanin Naura Faturrakhman (19) yang mengamankan beasiswa penuh untuk melanjutkan studi di Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY).
Baca juga: Kisah Ellana Givena Kerrysa, Peraih IPK Tertinggi Wisuda ITB 2025 yang Tetap Aktif Berorganisasi
Perjuangan Seorang Anak Pengemudi Ojek Online
Sehari-hari, ayah Afanin bekerja sebagai pengemudi ojek online (ojol) dengan penghasilan tidak menentu. Berangkat pagi dan pulang malam menjadi rutinitas demi mencukupi kebutuhan keluarga.
Kondisi itu gak membuat Afanin menyerah. Itu justru menjadi dorongan kuat baginya untuk belajar lebih giat.
Sejak kecil, Afanin telah memimpikan profesi sebagai dokter. Ia terinspirasi oleh sosok budenya yang juga seorang dokter, rutin membantu masyarakat sekitar. Tekad itu gak berubah meski sadar biaya kuliah kedokteran sangat besar bagi keluarganya.
Belajar Giat demi Kesempatan Beasiswa
Memahami kondisi ekonomi keluarga, Afanin sudah diarahkan untuk serius mengejar beasiswa sejak duduk di bangku SMP. Tekanan finansial gak menyurutkan semangatnya, melainkan membentuk karakter disiplin dan pantang menyerah dalam proses belajar.
Masuk SMA Muhammadiyah 1 Ponorogo, Afanin aktif mengikuti berbagai kegiatan lomba mulai dari sains, storytelling, hingga olimpiade.
Salah satu pencapaian terbaiknya adalah Juara 1 Olimpiade Fisika tingkat kabupaten pada 2024. Konsisten berprestasi menjadi fondasi penting dalam proses seleksi beasiswa kedokteran.
Seleksi Ketat yang Menguras Emosi
Untuk meraih beasiswa Dokter dan Dokter Gigi Muhammadiyah (FKIK UMY), Afanin harus melalui sejumlah tahapan seleksi yang cukup ketat.
Mulai dari seleksi administrasi, tes Computer Based Test (CBT), hingga sesi wawancara, etiap tahap dijalani dengan persiapan serius dan penuh harap.
Ketika dinyatakan lolos, Afanin mengaku gak kuasa menahan tangis. Rasa haru dan syukur menyelimuti momen itu karena perjuangan panjangnya membuahkan hasil.
Bahkan, sang ayah dikisahkan menangis diam-diam di kamar, gak menyangka anaknya bisa menembus Fakultas Kedokteran.
Keberhasilan Afanin menjadi lebih berarti karena tak hanya memenuhi impian pribadi, tetapi juga membawa harapan besar bagi keluarganya. Perjalanan ini menjadi bukti, bahwa hambatan ekonomi gak harus menjadi batas akhir kesempatan seseorang.
Kisah Afanin Naura mengingatkan, bahwa pendidikan memiliki kekuatan untuk mengubah kehidupan. Dengan kerja keras, konsistensi, dan dukungan keluarga, mimpi yang tampak jauh bisa menjadi kenyataan.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Fkik.umy.ac.id