Mahasiswa Stanford, Diego Romero (news.stanford.edu)
INDOZONE.ID - Kisah yang unik dan menginspirasi datang dari Diego Romero, yang berhasil masuk Stanford berkat bantuan sourdough.
Mahasiswa tahun kedua ini terampil menggabungkan seni dan sains dalam kegiatannya. Mulai dari menyempurnakan sourdough hingga merekayasa papan sirkuit.
Baca juga: Robot Xueba 01 Jadi Mahasiswa Doktoral, Belajar Seni di Shanghai Theater Academy
Ketika pandemi, Romeo berusia 14 tahun dan karantina di Portland, Oregon. Di sana, ia menemukan buku masak berjudul “Tartine Bread” di dapur keluarganya.
Empat tahun kemudian, ia menghabiskan banyak waktu untuk menyempurnakan kulit roti berwarna cokelat keemasan itu.
Hal tersebut membuatnya memilih opsi "Buat prompt Anda sendiri" untuk esai pendaftaran kuliahnya, dan menulis, “Apakah membuat roti itu seni atau sains?”
"Perubahan bagi saya, dari membuat roti yang enak menjadi roti yang luar biasa—terjadi ketika saya menyimpan buku resep itu," ungkap Romero.
Menurutnya, yang paling penting adalah memahami roti, dan memperhatikan adonannya. Mengikuti naluri juga membantunya merekayasa cara mendekati proses tersebut.
Bagi Romero, kreativitas yang dibutuhkan untuk menyempurnakan baguette, croissant, atau kulit pizza apapun turut memperkuat argumen bahwa memanggang adalah sebuah seni.
Konsep yang sama berlaku pada minat akademisnya di bidang matematika dan teknik elektro.
Ia mengatakan bahwa meskipun banyak orang memandang sains keras, sebagian besar hanya berupa rumus dan perhitungan angka, seluruh proses pemecahan masalah membutuhkan banyak kreativitas.
Baca juga: Ini Alasan Kenapa Anak Teknik Sipil Jago Bikin Bangunan 'Tahan Banting' dari Gempa
Romero berharap dapat memanfaatkan kreativitasnya sebagai insinyur listrik untuk memecahkan masalah yang ditimbulkan oleh perubahan iklim.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: News.stanford.edu