INDOZONE.ID - Setiap mahasiswa pasti ingin menyelesaikan skripsi dengan lancar dan tepat waktu.
Tapi, ada beberapa kondisi yang sering dianggap sepele padahal bisa berubah menjadi “red flag” besar yang berpotensi menghambat proses pengerjaan hingga mengulur waktu kelulusan.
Ada enam tanda skripsi bermasalah yang wajib diperhatikan sejak awal supaya proses penyusunan gak berubah menjadi beban berkepanjangan.
6 Tanda Skripsi Red Flag yang Harus Dihindari Mahasiswa
Berikut enam tanda skripsi red flag yang harus dihindari mahasiswa biar gak telat lulus kuliah:
Baca juga: 5 Tipe Mahasiswa Skripsi: Dari yang Santai, Ambis, sampai Dikejar Deadline di Detik Akhir
1. Topik Terlalu Luas dan Sulit Difokuskan
Kesalahan paling umum muncul sejak penentuan topik. Banyak mahasiswa memilih tema yang terdengar keren, tapi cakupannya terlalu luas. Baru masuk Bab I saja sudah kebingungan menentukan fokus, karena terlalu banyak aspek yang ingin dibahas.
Kondisi seperti ini membuat proses penulisan gak efisien dan rawan bolak-balik revisi. Topik yang sempit dan terarah justru lebih mudah dieksekusi.
2. Kesulitan Mendapatkan Data
Skripsi membutuhkan data yang valid. Tapi, gak sedikit mahasiswa yang baru sadar kalau sumber data sulit dijangkau setelah proposal disetujui. Sudah menghubungi berbagai pihak, tapi gak memperoleh izin atau respons memadai.
Jika sejak awal proses pengumpulan data sudah tersendat, maka tahap selanjutnya akan semakin berat. Pengambilan data perlu direncanakan dengan realistis dan sesuai akses yang memungkinkan.
3. Fenomena Tidak Nyata di Lapangan
Ada banyak ide penelitian yang terlihat menarik ketika masih berada dalam bayangan kepala. Tetapi setelah dilakukan pengecekan lapangan, ternyata fenomenanya gak terjadi atau datanya gak sesuai asumsi awal.
Hal ini membuat proposal runtuh dan harus dirombak total. Penelitian yang ideal selalu diawali dengan observasi sederhana supaya gambaran masalah lebih pasti.
4. Metode Gak Sesuai dengan Masalah
Kesalahan berikutnya adalah penggunaan metode yang gak tepat. Masalah yang seharusnya dibahas dengan pendekatan kuantitatif malah dipaksakan menggunakan metode kualitatif, atau sebaliknya.
Alasan yang paling sering muncul adalah rasa takut berhadapan dengan angka. Padahal metode penelitian bukan preferensi pribadi, tetapi alat ilmiah yang harus disesuaikan dengan rumusan masalah.
5. Tidak Membaca Pedoman Kampus
Setiap kampus memiliki aturan penulisan skripsi yang wajib diikuti. Mulai dari format, penomoran, pengetikan, hingga aturan sitasi. Ketidakpatuhan pada pedoman ini sering berujung pada revisi besar karena format dianggap “ngaco” oleh dosen pembimbing.
6. Teori Dasar Lemah dan Tidak Dipahami
Terutama untuk penelitian kuantitatif, teori dasar adalah tulang punggung penelitian. Jika pemahaman teori lemah, mahasiswa akan kesulitan menyusun instrumen, mengolah data, hingga menarik kesimpulan.
Baca juga: Bocoran Pertanyaan dan Tips Sidang Skripsi yang Bikin Mahasiswa Akhir Lebih Siap Mental!
Enam tanda di atas bisa jadi reminder penting bagi mahasiswa yang sedang memulai atau menjalani proses skripsi.
Dengan memahami red flag sejak awal, proses penelitian dapat direncanakan lebih matang dan risiko keterlambatan kelulusan bisa diminimalkan.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Instagram/@goalsacademy_id