Jumat, 21 NOVEMBER 2025 • 14:30 WIB

ISI Yogyakarta Kembangkan Vokal Hybrid Jawa untuk Generasi Muda

Author

Implementasi Inovasi Pembelajaran Vokal Hybrid Jawa (isi.ac.id)

INDOZONE.ID - Pelaksanaan Program Inovasi Seni Nusantara (PISN) 2025 oleh Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta bertujuan untuk memperkuat kerja sama antara pihak kampus dan masyarakat.

Program unggulan yang diimplementasikan adalah “Implementasi Inovasi Pembelajaran Vokal Hybrid Jawa dalam Meningkatkan Kompetensi Musikal Generasi Muda”.

Kegiatan ini merupakan langkah untuk mewujudkan Kampus Berdampak, memastikan bahwa selain di lingkungan akademik, keilmuan seni juga dapat hadir di tengah-tengah masyarakat. 

Baca juga: UNEJ Perkuat Kawasan Pendidikan Hijau, Tanam 535 Pohon di Kampus Vokasi Jubung

Acara PISN 2025 berlokasi di Bantul, tepatnya di Pendopo Agung Kalurahan Caturharjo, Kapanewon Pandak, pada 10 November.

Program tersebut merupakan hasil dari perolehan hibah yang diberikan oleh Kemendiktiristek.

Tujuannya adalah memperkuat sinergi antara komunitas seni, perguruan tinggi, dan masyarakat terhadap pengembangan model pembelajaran seni yang didasarkan pada riset.

Pihak yang hadir dalam kegiatan tersebut meliputi Lurah Caturharjo, yaitu H. Wasdiyanto, S.Si.., perangkat kalurahan dan para penggiat budaya. 

Turut hadir pula anggota Sanggar Catur Budaya, yang berperan penting sebagai mitra kegiatan.

Delegasi dari ISI Yogyakarta berada di bawah kepemimpinan Dr. Eli Irawati, S.Sn., M.A..

Ia tidak hanya menjabat sebagai Kepala LPPM ISI Yogyakarta, tetapi juga bertindak sebagai Ketua Kegiatan dalam acara tersebut.

Beliau didampingi dua dosen anggota tim, yaitu Riza Septriani Dewi, M.Ds., dan Ujang Nendra Pratama, S.Kom., M.Pd., serta melibatkan partisipasi mahasiswa dari setiap fakultas ISI Yogyakarta. 

Vokal Hybrid Jawa menjadi konsep utama yang diperkenalkan ISI Yogyakarta, yakni sebuah metode pembelajaran vokal tradisional yang dikombinasikan melalui pendekatan digital.

Dr. Eli Irawati menerangkan bahwa inovasi vokal hybrid adalah gabungan dari teknik-teknik vokal Jawa konvensional dan strategi edukasi modern.

“Kami ingin menunjukkan bahwa seni tradisi tetap relevan. Dengan pendekatan inovatif, tradisi justru menjadi inspirasi yang hidup dan dekat dengan generasi sekarang,” ujarnya.

Pelatihan diselenggarakan di Sanggar Catur Budaya, diikuti oleh partisipan yang terdiri dari mahasiswa seni dan remaja di wilayah tersebut. 

Baca juga: Kamu Mahasiswa Jurusan Seni? Ini dia 5 Anime Bertema Seni yang Wajib Ditonton!

Pengajaran yang digunakan adalah sistem hybri, menggabungkan akses ke materi digital yang mudah dijangkau dengan sesi pertemuan fisik yang diadakan secara langsung di pendopo.

Pendekatan ini bertujuan untuk memperkuat pemahaman musikal sambil menghubungkan para peserta dengan filosofi dan nilai-nilai estetika yang terkandung dalam tradisi vokal Jawa.

Dalam upaya mendukung kegiatan seni lokal, ISI Yogyakarta juga menyalurkan bantuan berupa perangkat sound system dengan daya 5000 watt untuk Sanggar Catur Budaya.

Lurah Caturharjo mengapresiasi program tersebut karena berhasil menggabungkan pelestarian budaya dengan semangat inovasi. 

“Program ini memberikan ruang bagi anak-anak muda untuk belajar, berkreasi, dan mencintai budaya sendiri dengan cara yang sesuai perkembangan zaman,” ungkapnya.

Kegiatan PISN 2025 ditutup dengan pementasan karya baru berjudul “Tresno Budoyo”, yang merupakan komposisi ciptaan Dr. Eli Irawati.

Karya penutup tersebut menampilkan perpaduan selaras antara warisan budaya dengan tradisi penggabungan tangga nada slendro dan pelog bersama irama kontemporer.

Melalui inisiatif ini, ISI Yogyakarta menegaskan fungsinya sebagai lembaga pendidikan tinggi seni yang mampu beradaptasi, membawa pengaruh positif, dan pemberdayaan sosial masyarakat.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Isi.ac.id

TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU