INDOZONE.ID - Institut Teknologi Bandung (ITB) kolaborasi dengan sejumlah perguruan tinggi untuk kegiatan tanggap darurat dan longsor yang terjadi di Sumatra Barat (Sumbar).
ITB menggandeng Universitas Indonesia (UI), Universitas Negeri Padang (UNP), Universitas Andalas (UNAND), dan UIN Imam Bonjol Padang, dalam memberikan bantuan.
ITB juga melibatkan akademisi, mahasiswa, dan tenaga kesehatan untuk bantu masyarakat terdampak, khususnya di dua lokasi, yaitu Posko Pengungsian Kecamatan Bayang Utara, Kabupaten Pesisir Selatan, dan Kecamatan Palembayan, Kabupaten Agam.
Sebanyak dua wilayah tersebut terdampak cukup parah. Bahkan, tingkat aksesibilitasnya sangat rendah karena kondisi geografis yang sulit dijangkau. Tim gabungan melakukan penyaluran bantuan kemanusiaan langsung ke lokasi.
Baca juga: Riset Viroterapi Mahasiswi Universitas Negeri Malang Ini Jadi Harapan untuk Terapi Kanker
Bantuan yang Diberikan
Bantuan yang diberikan, seperti kebutuhan pangan, minuman, obat-obatan, peralatan masak, dan pakaian. Tim juga membuat layanan kesehatan gratis, edukasi terkait identifikasi dan penyaringan air bersih sederhana, dan pendampingan psikososial untuk anak-anak.
Selanjutnya, tim juga membangun fasilitas sanitasi, seperti MCK darurat dan sistem penyaringan air bersih di beberapa titik pengungsian.
Baca juga: Hobi Nulis? Ini Dia 6 Jurusan yang Cocok untuk Mengasah Kemampuan Menulismu
Delapan Prioritas Kemdiktisaintek
Ketua Tim ITB, Prof. Dr. apt. Ilma Nugrahani, menjelaskan kegiatan ini bagian dari Program Pengabdian kepada Masyarakat Tanggap Darurat Bencana, yang didukung oleh Kemdiktisaintek.
Program ini memiliki delapan prioritas utama, mencakup penyediaan sandang dan pangan, layanan kesehatan, pendampingan psikososial, penjernihan air dan pembangunan MCK darurat, pemulihan ekonomi, pendidikan darurat, dukungan administrasi, hingga mitigasi dan edukasi kebencanaan.
“Tim ITB mengangkat tema implementasi solusi multidisiplin untuk pemulihan cepat dan mitigasi banjir berkelanjutan di wilayah Sumatera Barat. Kami memilih dua lokasi yang memiliki dampak besar serta keterbatasan akses akibat bencana,” ujarnya.
Ia juga menyebut, terdapat beberapa rumah warga tertimbun longsor di Desa Ngalau Gadang, Kecamatan Bayang Utara. Lalu, di daerah Kecamatan Palembayan, banyak rumah hanyut karena banjir tersebut.
Baca juga: Mau Kuliah Gratis di Korea? Intip Beasiswa KAIST 2026, Dapat Tunjangan Bulanan dan Fully Funded
Tantangan di Lapangan
Saat di lapangan, tim mengalami berbagai tantangan, seperti keterbatasan sinyal komunikasi, medan berlumpur, cuaca tidak menentu, serta akses yang sulit untuk dilalui, bahkan hanya bisa dilewati dengan jalan kaki atau motor.
Dengan kolaborasi lintas universitas dan berbagai pihak lainnya, program ini bisa menjangkau lebih dari 500 pengungsi di dua lokasi tersebut. Harapannya, program ini bisa jadi langkah untuk dosen dan mahasiswa berperan dalam penanggulangan bencana.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Itb.ac.id