Mahasiswa UNS Bangkitkan Kembali Kejayaan Padi Rojolele Delanggu Melalui Sentuhan Desain Modern
INDOZONE.ID - Mahasiswa Program Studi Desain Interior, Fakultas Seni Rupa dan Desain (FSRD) Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta, melakukan aksi nyata dalam melestarikan warisan pangan lokal.
Melalui program Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM) "Proyek Desa", mereka berfokus membangkitkan kembali popularitas Padi Rojolele Delanggu di Kabupaten Klaten.
Baca juga: Wujudkan Kreativitas Nusantara, 272 Mahasiswa UMY Gelar Pameran Seni SENUSA sebagai Proyek Akhir
Kegiatan yang berlangsung dari Agustus hingga Desember 2025 ini, mengusung tema inovatif dengan memadukan pendekatan budaya pangan dan desain modern.
Padi Rojolele sebenarnya adalah varietas unggulan kebanggaan Delanggu yang sangat masyhur karena cita rasanya lezat.
Namun, sejak era Revolusi Hijau, petani mulai meninggalkan varietas tersebut. Sebab, waktu tanamnya dianggap terlalu lama dibandingkan jenis padi lainnya.
Untuk mengatasi hal tersebut, tim yang dipimpin oleh Martina Desi Irna Setiyobudi, di bawah bimbingan dosen Pandu Purwandaru, Ph.D., berusaha memperkenalkan kembali Rojolele.
Baca juga: Inovasi Akuaponik UMM Ubah Lahan Sempit Warga Jetis Jadi Sumber Pangan dan Ekonomi
“Melalui kegiatan ini, mahasiswa berupaya membangkitkan kembali eksistensi Rojolele Delanggu dengan pendekatan urban–rural exchange dan penguatan food culture sebagai identitas pangan lokal,” tutur Pandu Purwandaru.
Dalam pelaksanaannya, para mahasiswa tidak hanya berteori, tetapi terjun langsung ke sawah untuk ikut serta dalam proses panen bersama warga Desa Sabrang.
Langkah ini dilakukan sebagai bentuk penghormatan terhadap dedikasi para petani lokal. Selain itu, mereka menggelar "Festival Menanam Rojolele", sebuah ajang yang mempertemukan masyarakat kota dan desa untuk saling berinteraksi.
Suasana festival semakin meriah dengan adanya kegiatan makan camilan tradisional bersama. Tujuannya adalah untuk mempererat rasa persaudaraan sekaligus memperkenalkan kekayaan kuliner daerah.
Baca juga: Angkat Kearifan Lokal, Mahasiswa Komunikasi UNPAS Gelar Festival Komunikasi Budaya 2026
Selain dari sisi budaya, aspek ekonomi juga menjadi perhatian. Para mahasiswa menerapkan ilmu desain mereka untuk mengembangkan kemasan produk yang menarik, pembuatan label, hingga strategi pemasaran digital.
Tak hanya itu, mereka juga memanfaatkan limbah jerami untuk diolah menjadi barang kerajinan bernilai seni.
Tujuannya agar beras Rojolele memiliki daya saing yang lebih tinggi di pasar yang lebih luas dan memperkuat citranya sebagai produk pangan eksklusif berbasis budaya.
Program diharapkan dapat memberikan dampak jangka panjang, seperti meningkatnya pendapatan petani dan terjaganya kelestarian padi lokal.
Melalui kolaborasi ini, UNS menunjukkan komitmennya dalam mengabdi kepada masyarakat dengan menjembatani kearifan lokal dan sentuhan desain kontemporer.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Uns.ac.id