INDOZONE.ID - Kisah inspiratif hadir dari salah satu mahasiswa S1 Psikologi Universitas Gadjah Mada (UGM), Ryaas Amin. Ia menjalankan aktivitas sehari-harinya sebagai mahasiswa, ojek online, dan juga driver pengantar makanan.
Kebutuhan hidup yang tinggi serta rasa hausnya akan pendidikan membentuknya menjadi invidu yang tangguh dalam menghadapi segala rintangan.
Semuanya berawal dari rasa mandiri yang tumbuh di dalam dirinya.
Menginjak dewasa, membuatnya berpikir untuk tidak lagi sepenuhnya bergantung kepada orang tua.
Baca juga: Dibayar Pemerintah! Magang Nasional 2026 Beri Uang Saku Setara UMP Selama 6 Bulan
Mulai dari sana, ia memulai peruntungannya sebagai seorang ojek online dan juga driver pengantar makanan.
Kerja keras dan usahanya membuahkan hasil. Ryaas mampu membiayai keseluruhan biaya kuliah dengan usahanya sendiri.
Di sela kesibukannya sebagai ojol, ia tetap mengatur waktu agar perkuliahan dapat dijalani secara optimal tanpa ketinggalan materi.
“Sebenarnya kalau manajemen waktu, aku biasanya mulai merencanakannya pas memilih mata kuliah atau saat masa KRS. Jadi, saat memilih mata kuliah, aku juga harus mempertimbangkan jumlah SKS sebagai patokan waktu antara waktu kuliah dan bekerja,” jelasnya.
Baca juga: Tembus Starlink dan NASA, Ini 7 Prospek Kerja bagi Sarjana Teknik Dirgantara!
Sebelum memutuskan menjadi ojol, ia terlebih dahulu mempertimbangkan berbagai hal agar pilihannya ini tepat.
“Kalau pekerjaannya tuh sebenernya relatif mudah, karena fleksibel dan bisa dilakukan di mana aja. Kalau ditekuni tuh penghasilannya juga tidak mengecewakan, kok.” ujarnya.
Impian dan rasa keinginan yang besar mendorongnya untuk terus berusaha dan bekerja keras lebih giat lagi.
"Penghasilan bisa diatur. Ada saatnya istirahat, ada saatnya harus bekerja. Jadi kalau memang memiliki keinginan, kita harus benar-benar mengusahakannya,” tambahnya.
Baca juga: Wujudkan Kampus Inklusif, UPNVJ Resmikan Lift di Gedung FEB yang Terhubung ke FISIP
Selain itu, keberanian dan ingin hidup mandiri tanpa bergantung kepada orang tua juga membentuknya menjadi pribadi yang tidak mudah untuk pantang menyerah dalam mewujudukan impiannya.
“Aku tuh pengen sesuatu, tapi aku pengen mewujudkannya atas usahaku sendiri. Jadi, kalau misal itu zonk, aku ga merasa ngerugiin orang tuaku,” imbuhnya.
Perjalanannya sebagai ojol mengajarkan ia untuk lebih siap menghadapi krikil kehidupan setelah lulus kuliah nanti, karena telah terbiasa melewati berbagai rintangan.
“Proses ini bisa jadi bekalku setelah lulus kuliah nanti, sih. Aku jadi bisa terbiasa mengatur skala prioritas, multi-tasking, dan kadang mengatasi konflik dari para pelanggan,” pungkasnya.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Ugm.ac.id