INDOZONE.ID - Mahasiswa Arsitektur Universitas Indonesia (UI) menunjukkan kepeduliannya terhadap warisan budaya Nusantara melalui pameran bertajuk "Ekskursi Arsitektur UI 2025: Tana Toa".
Pameran diselenggarakan sejak 17 hingga 30 Januari 2026, yang bertempat di Galeri Emiria Soenassa, Taman Ismail Marzuki (TIM), dan terbuka untuk umum.
Karya yang ditampilkan merupakan hasil dari perjalanan riset mendalam yang dilakukan oleh para mahasiswa di Desa Tana Toa, Kabupaten Bulukumba, Sulawesi Selatan, pada bulan Juli 2025.
Baca juga: Mahasiswa Desain Grafis Unesa Gelar Pameran Kreatif Bertema Bajak Laut di Balai Pemuda
Filosofi Kesederhanaan dalam Bangunan
Fokus utama dari pameran adalah merekam dan memaknai arsitektur tradisional yang dikenal dengan nama Bola To Kajang.
Melalui pengamatan langsung, para mahasiswa tidak hanya menampilkan keindahan fisik bangunan, tetapi juga menggali filosofi di balik struktur tersebut.
Masyarakat adat Kajang dikenal sangat teguh dalam memegang prinsip hidup kamase-masea atau kesederhanaan hidup.
Nilai kesederhanaan ini tercermin kuat pada hunian mereka yang hanya menggunakan material alami, seperti kayu, bambu, dan ijuk.
Baca juga: UAI Hadirkan Festival Budaya: Pakaian Tradisional Indonesia Warnai Pawai Penuh Keindahan
Segala sesuatu yang berkaitan dengan pembangunan rumah, mulai dari tata ruang, arah bangunan, hingga bentuknya, telah diatur oleh hukum adat yang disebut pasang ri Kajang.
Aturan tersebut bertujuan untuk memastikan tetap terjaganya keseimbangan antara tatanan sosial masyarakat dengan kelestarian alam sekitarnya.
Arsitektur sebagai Cerminan Nilai Budaya
Dengan mengusung tema “Anjaga Ahere, Mengantara di Tana”, pameran mencoba menggambarkan hubungan harmonis antara manusia, alam, dan keyakinan spiritual.
Dekan Fakultas Teknik UI, Kemas Ridwan Kurniawan, menjelaskan bahwa pameran yang digelar adalah hasil dari proses pembelajaran.
“Melalui tema Anjaga Ahere, Mengantara di Tana, Mahasiswa diajak memahami bahwa arsitektur bukan sekadar wujud fisik bangunan, melainkan cerminan nilai, etika, serta relasi manusia dengan alam dan budayanya,” jelasnya.
Ia menegaskan bahwa pemahaman mendalam terhadap kearifan lokal dapat menjadi fondasi penting bagi pengembangan arsitektur Nusantara yang berkelanjutan.
Baca juga: Matematika Rasa Kuliner! Mahasiswa UNNES Ciptakan E-Komik COMA Berbasis Kearifan Lokal Semarang
Selain pameran, panitia juga menyelenggarakan berbagai acara pendukung yang menarik untuk diikuti publik, seperti sesi bedah film dan zine, bedah buku dan diskusi, serta kegiatan menggambar bersama.
Melalui rangkaian acara tersebut, diharapkan masyarakat dapat lebih menghargai kekayaan budaya lokal yang masih bertahan di tengah arus modernisasi.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Eng.ui.ac.id