INDOZONE.ID - Empat mahasiswa Teknik Industri Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) berhasil mengembangkan alat pengering gabah (bed dryer) yang efektif digunakan petani walaupun saat musim hujan.
Inovasi yang dikepalai oleh Malikul Arifin tersebut berangkat dari permasalahan di lapangan, yang kerap dialami oleh petani saat musim hujan tiba, yakni kesulitan untuk mengeringkan hasil tani secara optimal.
Hal tersebut menyebabkan kualitas panen yang dihasilkan pun turun drastis,
“Waktu kami melakukan penelitian di Desa Ampeldento, Karangploso, Kabupaten Malang, kebetulan sedang musim hujan. Dari situ kami melihat pengeringan gabah secara manual kurang efektif. Akhirnya kami berinisiatif merancang bed dryer sebagai solusi,” tutur Malikul.
Baca juga: Keren! Mahasiswa UMM Rancang Irigasi Otomatis Bertenaga Surya untuk Pertanian Modern
Bed dryer yang tim kembangkan bekerja dengan memanfaatkan panas dari pembakaran minyak jelantah, hasil dari kain dan tisu yang telah dibakar sebelumnya.
Hasilnya, panas yang dihasilkan terbukti stabil sehingga proses pengeringan hasil tani juga lebih merata dan optimal.
“Selain gabah, alat ini bisa dimanfaatkan untuk biji-bijian lain seperti jagung dan kopi, sehingga manfaatnya lebih luas,” tambahnya.
Baca juga: Rayakan HUT ke-25, BPOM Gandeng UNAND Tanam Pohon Andalas untuk Warisan Ekologis
Selama proses pengembangan bed dryer, tim mengalami kendala saat pemilihan bahan material yang akan digunakan.
“Kami sempat kesulitan karena ada kombinasi bahan besi dan aluminium, sehingga proses pengelasan harus dilakukan dengan sangat hati-hati,” tuturnya.
Sampai saat ini, bed dryer tersebut masih berbentuk sample uji coba dengan skala 1:10 dari ukuran alat sebenarnya.
Walaupun masih berbentuk sample, bed dryer tersebut telah berhasil melewati berbagai tahap uji coba dengan hasil akhir yang memuaskan.
Baca juga: UPI Turunkan Tim Trauma Healing untuk Pulihkan Psikologis Warga Aceh Utara
Setelah melewati berbagai uji tes, hasilnya menunjukkan bed dryer tersebut dapat menurunkan kadar air dalam gabah secara ideal sebanyak 12-14 persen.
Di waktu yang akan mendatang, bed dryer itu akan direalisasikan dengan ukuran aslinya yang lebih besar, sehingga dapat menampung 500 kilogram hasil tani untuk dikeringkan menggunakan suhu 40-50 derajat celsius.
Sementara itu, dosen pembimbing Thomy Eko Saputro, menilai inovasi yang tim perkenalkan tersebut menjadi bukti mahasiwa yang kompeten dalam memenuhi kebutuhan warga.
“Saya mengapresiasi mahasiswa Capstone Design yang berhasil merancang bed dryer sebagai solusi nyata bagi permasalahan UMKM. Karya ini menunjukkan kemampuan dalam mengidentifikasi kebutuhan pengguna, merancang sistem, memilih material, hingga menguji fungsi alat secara teknis,” ujarnya.
Baca juga: Ketatnya Seleksi! Ini 5 Jurusan UI yang Paling Sulit Ditembus
Inovasi tersebut juga merupakan bukti dari integritas lintas bidang antara ilmu pengetahuan, kepedulian sosial, dan semangat berkarya, untuk menghasilkan solusi berupa teknologi yang berguna bagi masyarakat sekitar.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Umm.ac.id